Rai Mantra Luncurkan Buku Jejak Peneliti Belia

Sebagai apresiasi pada puluhan siswa yang berprestasi di bidang penelitian ilmiah dan telah mampu mengahrumkan nama Bali dan Indonesia ditingkat Internasional, Pemerintah Kota Denpasar meluncurkan buku  “Jejak Peneliti, Himpun Hasil Penelitian Siswa SMP dan SMA 2017”. Peluncuran dilakukan langsung oleh Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, Kamis, 23 Nopember 2017,  di Rumah Pintar, Jalan Kamboja, Denpasar.

Dalam peluncuran yang berlangsung sahaja namun penuh tawa tersebut para peneliti belia yang telah berhasil memenangi medali emas, perak maupun perunggu di ajang Internasional tersebut bergiliran tampil di depan Walikota Rai Mantra dan undangan memaparkan secara sekilas hasil penelitian mereka. Sebagian besar dari mereka memaparkan hasil risetnya dengan bahasa Inggris yang sangat baik.

Dalam pidatonya,Walikota Rai Mantra mengapresiasi keberhasilan para penelitian muda dari berbagai SMP dan SMA di Denpasar tersebut sebagai sebuah langkah luar biasa yang diayunkan di usia belia.

“Pencapaian kalian dalam penelitian yang berhasil meraih medali tingkat Internasional menjadi kebanggan kami dan seluruh masyarakat Kota Denpasar. Sungguh sebuah langkah hebat yang dilakukan di usia muda. Teruslah berkarya untuk bekal masa depan kalian dan untuk kemanfaatan bagi sesama,” ucapnya.

Hadir dalam acara peluncuran tersebut Kepala Badan Kreatif Denpasar I GP Anindya Putra, Kepala UPT Rumah Pintar I Wayan Suwena, sejumlah pejabat Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Denpasar, serta beberapa Kepala Sekolah SMP dan SMA Negeri di Kota Denpasar.

Berikut data lengkap judul penelitian dan prestasi internasional yang diraih para peneliti muda Denpasar 2017:

 

Chef Komang Aryana “PR” Kuliner Bali

Chef Komang Aryana lahir dan besar di Bali. Jauh sebelum menjadi chef ia telah menaruh minat yang sangat besar terhadap wisata kuliner dan resep-resep warisan Tradisi Bali. Minat dan kecintaannya tersebut kelak di kemudian hari mengantarkannya sebagai seorang Executive Chef di Aston Denpasar Hotel & Convention Center. Dalam mengolah makanan ia telah memenangi banyak kompetisi, antara […]

KPK Gelar Festival Anti Korupsi di Denpasar

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerjasama dengan beberapa komunitas akan melaksanakan puncak Festival Anti Korupsi di Kota Denpasar. Festival itu akan berlangsung di Lapangan Taman Kota Lumintang pada 9 Desember 2017.

Menurut Spesialis Madya Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK  Indraza Marzuki, Festival Anti Korupsi yang digelar pertama kali di Bali ini bertujuan untuk meminimalisir jumlah korupsi di Indonesia.

“Melalui berbagai kegiatan kreatif dan seni kita gemakan pesan anti korupsi guna membangun budaya jujur dan bersih dalam segala hal pada masyarakat Indonesia,” ujar Indraza.

Usai beraudensi dengan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, Senin (13/11), Indraza Marzuki mengatakan festival ini sengaja melibatkan semua komunitas di Bali, agar menggelorakan anti korupsi kepada seluruh komponen masyarakat. ”Kegiatan festival ini akan menampilkan fotografi, teater, puisi, mural, komik, poster, video art, jingle radio, majalah dinding, karya jurnalistik, cerdas cemat dan sebagainya,” terangnya.

Ketua Panitia I Nyoman Mardika mengatakan, kegiatan ini mengandeng beberapa komunitas. Masing-masing komunitas telah membuat kegiatan yang akan ditampilkan pada puncak acara,” ujarnya.

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan, kegiatan ini untuk meminimalisir dan mengatasi anti korupsi. Kegiatan ini juga dipublikasikan melalui Pro Denpasar, sehingga masyarakat mengetahuinya dan bisa hadir menyaksikan kegiatan yang dilaksanakan dalam Festival Anti Korupsi tersebut.

“Untuk memperlancar kegiatan ini, kami di Pemerintah Kota Denpasar siap membantu memfasilitasi,” ujar Rai Mantra.

Sebanyak 16 komunitas di Pulau Dewata berkolaborasi dengan KPK menggemakan gerakan antikorupsi ini. Komunitas-komunitas tersebut adalah Kompilasi Musik Antikorupsi, Jatijagat Kampung Puisi Bali, Komunitas Teater Bali, Komunitas Pojok, Komunitas Djamur, Platiscology Community, Komunitas Ruang Asah Tukad Abu, Lingkara Photography Community, AJI Denpasar, Bintang Gana, Luden House, Komunitas Seni Lawan Korupsi, Rumah Sanur Creative Hub, Komunitas SAMAS Bali, Manikaya Kauci, dan Komunitas Hutan Film Festival.

Puncak Festival Antikorupsi dilaksanakan 9 Desember 2017. Namun sebelum itu serangkaian kegiatan telah dilaksanakan oleh masing-masing komunitas yakni fotografi, teater, puisi, mural, komik, poster, video art, jingle radio, majalah dinding, dan esai.

Koordinator Bidang Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Muryono Prakoso mengatakan partisipasi publik merupakan salah satu kunci untuk menangkal korupsi. Dengan melibatkan publik dalam kegiatan kampanye antikorupsi ini, nantinya masyarakat dapat turut aktif melakukan kontrol. Melihat di Bali terdapat banyak komunitas  dengan beragam aktivitas dan kreativitas serta mengakar, maka dirasa cukup strategis menyampaikan pesan antikorupsi kepada masyarakat melalui komunitas-komunitas tersebut melalui kegiatan-kegiatan sederhana.

“Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tidak semata dengan kegiatan yang besar-besar, karena kalau publik hanya adem-ayem, tentunya tidak merasa punya peran dalam kegiatan penyelamatan negeri dari bahaya korupsi,” tandas Muryono.

Navicula Kolaborasi dengan Musisi Aborijin di Mapping Melbourne

BAND rock asal Bali Navicula akan menggelar tur ke Australia dan berkolaborasi dengan musisi Aborijin pada November hingga Desember 2017. Navicula akan tampil di beberapa acara, salah satunya Mapping Melbourne yang digelar oleh Multicultural Arts Victoria (MAV) di Testing Grounds, City Road, Southbank pada 8 Desember.

Di Mapping Melbourne Navicula akan berkolaborasi dengan musisi aborijin Kutcha Edwards dan Robbie Bundle. Navicula bersama Edwards dan Bundle akan terlibat dalam rangkaian aktivitas kesenian dan workshop bersama seniman lain di Lake Tyers, East Gippsland, Victoria pada akhir November.

Navicula akan tiba di Melbourne 23 November dan langsung menuju Lake Tyers. Gede Robi, vokalis dan gitaris Navicula mengatakan sangat antusias pada rencana kolaborasi.

“Dapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan musisi Aborijin mengingatkan kami pada akar budaya Bali dan pentingnya untuk tetap terhubung dan menghormati budaya lama,” kata Robi.

Navicula dikenal sebagai band yang aktif terlibat dalam gerakan sosial dan lingkungan. Bahkan band ini dijuluki sebagai Green Grunge Gentlemen karena pesan-pesan dalam musik mereka sarat tema lingkungan. Robi mengharapkan kolaborasi dan aktivitas bersama komunitas seni dan masyarakat Aborijin di Lake Tyers akan memperkaya wawasan lingkungan mereka.

“Ketika kami mencari-cari solusi untuk banyak masalah masa kini, termasuk konservasi lingkungan, kami sering menemukan kalau solusi sudah ada lama pada masyarakat asli. Peran kami sebagai generasi yang lebih muda bisa lebih sederhana dengan belajar dari komunitas-komunitas ini dan memberdayakan kearifan mereka,” kata Robi.

Navicula akan datang bersama tim dari Kopernik, lembaga nirlaba berbasis di Ubud, Bali yang memusatkan diri pada pencarian solusi untuk mengurangi kemiskinan. Solusi itu bisa didorong dengan teknologi -baik fisik maupun informasi dan komunikasi- dan pendekatan yang diinpirasi dari prilaku. Kopernik banyak melakukan distribusi alat teknologi yang sederhana dan terjangkau untuk masyarakat desa seperti lampu tenaga surya dan saringan air.

Aktivitas kolaborasi di Lake Tyers difasilitasi oleh organisasi seni dan perubahan sosial FLOAT dan Wurinbeena. “Pertukaran ide secara internasional dan regional sangat vital. Kami telah menguji coba model pengembangan ekonomi yang cocok untuk komunitas kami, dan mengeksplorasi tata guna lingkungan yang kreatif. Bekerja dengan Navicula dan Kopernik adalah kesempatan yang sangat seru,” kata Andrea Lane, produser FLOAT.

“Wurinbeena menyambut musisi Indonesia Navicula untuk berkolaborasi dengan komunitas kami dan Kuthca Edwards dan Robbie Bundle. Keren,” kata Lennie Hayes, seniman Gunyah.

Robi dan Ewa Wojkowska, pendiri Kopernik akan berbicara di Indonesia Forum Melbourne University 28 November dan Asia 21 Summit, pertemuan pemimpin muda Asia Pasifik di RMIT, 29 Novemberhingga 1 Desember. Selain Melbourne, Navicula juga akan tampil di Sydney, Byron Bay dan Brisbane.

Ini merupakan tur kedua bagi Navicula ke Australia. Band ini pernah tampil Sydney Festival 2013. Navicula juga pernah tur ke Kanada dan Amerika Serikat. Pada tahun 2012 Navicula memenangkan kompetisi RØDE Rocks dari produsen microphone RØDE berbasis di Sydney. Hadiahnya Navicula diterbangkan ke Los Angeles untuk rekaman di studio Record Plant di Hollywood.

Navicula saat ini tengah menggarap album ke-9 mereka, di studio sekaligus markas mereka di Ubud, Bali. Album ini rencananya akan berjudul Earthship. ** Alfred Ginting

 

PAMERAN KERIS PETINGET TUMPEK LANDEP 2017

BAMBANG Hariono tampak sumringah. Pria asal Malang yang tergabung dalam paguyuban Pendowo Aji dan terlibat dalam pameran dan bursa keris di depan Museum Bali ini tampak bungah karena keris-keris yang dibawanya ramai peminat dan ia pun meraup untung puluhan juta rupiah karenanya.

Begitulah suasana dari tahun ke tahun pameran keris pusaka dalam rangka Petinget Tumpek Landep yang diselenggarakan Pemerintah Kota Denpasar dan Forum Komunikasi Paguyuban Etnis Nusantara (FKPEN) Bali. Tahun ini acara yang digelar pada 28-31 Agustus 2017 itu bahkan terasa lebih marak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut M.Hartono, pemilik stand dari paguyuban Selaparang Mandalika Keris, pameran keris pusaka yang diadakan oleh Pemkot Denpasar selalu ramai pengunjung dan penyelenggaraannya sangat tertata.

“Transaksinya sangat bagus, puluhan juta bisa kita dapatkan selama berlangsungnya acara,” tuturnya.

Namun bagi dia bukan itu yang terpenting. Yang lebih penting adalah bahwa Pemrintah Kota Denpasar sangat peduli dengan perkembangan kebudayaan, khususnya terkait benda pusaka seperti keris. Disisi

Memang, sebagai kota yang tergabung dalam organisasi kota-kota pusaka dunia (OWHC) Pemerintah Kota Denpasar sangat memperhatikan keberadaan pusaka warisan nenek moyang.  Kegiatan Petinget Rahina Tumpek Landep  yang  setiap tahun dimeriahkan dengan kirab pusaka, sarasehan, dan aktivitas lainnya dimaksudkan untuk melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam benda-benda pusaka, baik yang tampak maupun yang tidak.

Petinget Rahina Tumpek Landep tahun ini dibuka  dengan gelaran pementasan tari dan tabuh anak-anak  Br. Tegeh Sari, Tonja,  dan Tari Baris Landep yang menggambarkan kewibawaan Keris Bali sebagai lambang Taksu Keluhuran Budaya Nusantara. Tari Baris Landep ini diproduksi oleh Permana Art Studio bekerjasama dengan Disperindag Kota Denpasar.

Acara dilanjutkan dengan  Kirab Pusaka yang pada tahun ini ditandaidengan mengarak  Keris Denpasar sepanjang satu meter. Acara lainnya adalah Pameran Keris Pusaka yang diadakan di dalam Gedung Museum Bali.  Pameran ini melibatkan para pecinta keris dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah keris pusaka yang dipamerkan tak kurang dari 150 buah.

BursaKeris juga mewarnai acara ini. Bursa diselenggarakan di depan Museum Bali melibatkan  sekitar 30 pedagang keris dari Bali dan luar Bali. Terdapat juga Sertifikasi Keris sebagai layanan bagi masyarakat yang memiliki keris secara turun temurun namun tidak mengetahui spesifikasinya secara detil seperti luk, pamor, fungsi, tahun pembuatan,  dan lain-lain. Sertifikat ditanda tangani oleh Kurator Keris yang kompeten.

Selain keris pusaka, dalam pameran digelar juga produk pande besi, emas perak dan kerajinan lainnya.  Di sela-sela itu diselenggarakan Serasehan bertema “Jelajah Holistik Tumpek Landep sebagai Hari Pusaka lokal, regional”  yang melibatkan Budayawan, Seniman dan Pecinta Keris, SKPD Terkait, Unsur Akademisi, Bendesa Desa Pekraman se Kota Denpasar, Tokoh Agama dan Adat, STT dan  Swasta.

Tampil sebagai pembicara dan moderator antara lain  Prof. Dr. I Nyoman Suarka,  Dr.  AAA. Ngurah Tini Rusmini Gorda ,  Drs Nyoman Mudita (Pengusaha, Denpasar), dan Dr. Ida Bagus Rai Putra

Sebagai pelengkap digelar pula berbagai kesenian tradisional seperti Wayang dan Bondres. ***

 

1400 Aplikasi pada “The NextDev Competition 2017”

Upaya berbagai pihak, termasuk swasta, untuk mengebangkan potensi anak-anak muda dalam penciptaan aplikasi digital yang memberi solusi bagi persoalan bersama perlu diapresiasi sangat tinggi. Upaya-upaya macam itu akan menjadikan negeri ini kuat karena menemukan berbagai solusi bagi persoalannya yang diawali dari adanya sinergi yang baik antara dunia usaha, masyarakat, dan pemerintahnya.  Demikian disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara saat membuka ajang The NextDev 2017 yang diselenggarakan oleh Temkomsel, yakni kompetisi pengembangan aplikasi digital untuk solusi masalah-masalah sosial.

Rudiantara berharap kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dapat terus diperkuat agar solusi-solusi bagi Smart City dan Smart Rural dan lainnya dapat lebih cepat terealisasi.

“Karena itu berbagai kendala non teknis dan birokrasi yang umumnya dihadapi para pengembang aplikasi ketika memecahkan suatu masalah, harus diminimalisir oleh semua pihak,” ungkap Rudiantara.

Kompetisi The NextDev 2017 adalah sebuah ajang inkubasi bagi startup pengembang aplikasi digital khususnya di wilayah Bali dan sekitarnya. Ini merupakan program tahunan yang telah digelar selama tiga kali berturut-turut.  Tahun ini, tak kurang  dari 1400 aplikasi berhasil di jarring melalui kompetisi ini. Aplikasi-aplikasi itu berasal dari para pengembang aplikasi di seluruh Indonesia.

Mengusung tema Karya Anak Bangsa untuk Solusi Indonesia, The NextDev 2017 menantang kaum muda untuk menciptakan aplikasi digital yang memberikan dampak sosial yang positif untuk mendukung pengembangan ekosistem digital dan pembangunan Indonesia yang digital.

Menurut Manager Branch Telkomsel Denpasar, Endra Diputra, ajang ini merupakan upaya pihaknya mewadahi potensi generasi muda agar memanfaatkan teknologi secara tepat guna.

“Jadi anak-anak muda yang cerdas itu kami arahkan untuk berkreasi menghasilkan aplikasi digital yang mampu mengatasi masalah di masyarakat,” ucapnya.

Berkait aplikasi digital, Denpasar merupakan salah satu kota yang memiliki anak muda dengan tingkat kepedulian yang tinggi akan berbagai permasalahan sosial di kotanya. Mereka terdorong untuk membantu mencari solusi dengan mengembangkan berbagai aplikasi mobile. Ini terbukti dari beberapa start up muda asal Denpasar yang menghadirkan aplikasi dan platform ERZAP yang menjadi Top 20 Finalis NextDev di tahun 2015, dan diikuti dengan aplikasi TUNTUN yang menjadi Top 5 Finalis NextDev 2016.

“Keberhasilan start up yang berasal dari kota Denpasar selama dua tahun berturut-turut dalam kompetisi ini membuat kami optimis akan potensi dari developer muda di kota ini. Selain membanggakan, kami juga yakin keberhasilan mereka akan memotivasi generasi muda yang lain untuk berprestasi melalui The NextDev Competition 2017,” papar Endra.

Ajang ini berfokus pada isu fundamental pada pembangunan Indonesia yang digital, yakni ekosistem pendukung kehidupan masyarakat Indonesia, baik perkotaan maupun perdesaan.

Dalam kompetisi The NextDev 2017, kategori yang bisa dipilih oleh peserta sebagai dasar pengembangan solusi merefleksikan berbagai bidang yang menyentuh aspek kehidupan masyarakat secara langsung, di antaranya kesehatan, edukasi, agrikultur, dan transportasi.

Karya mereka juga akan bermanfaat bagi orang banyak, tim terbaik dari masing-masing kategori juga akan mendapatkan berbagai hadiah menarik yang disebut dengan 7M, yakni Market Access (akses pasar), Marketing (publisitas), Mentoring (pelatihan dan pendampingan), Management Trip (study visit ke pelaku industri telekomunikasi di luar negeri).

Juga, Money (uang tunai), Monetizing (peluang besar untuk memperoleh pendapatan melalui kolaborasi dengan stakeholder terkait). Match Expert (perekrutan profesional sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan bisnis startup).***

Edukasi Pasar Modal dengan Game Online

UNTUK menjadikan persepsi masyarakat mengenai investasi menjadi sesuatu yang terasa asyik dan menyenangkan, Otoritas Jasa Keuangan menempuh cara inovatif untuk mengedukasi masyarakat di Bali terkait investasi di pasar modal lewat permainan berbasis aplikasi yakni “Nabung Saham Go” dan “Stocklab”.

Menurut Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Nasirwan, cara tersebut dilakukan agar upaya edukasi yang dilakukan mampu menyentuh masyarakat ke segala lapisan sehingga tidak terkesan kaku seperti edukasi-edukasi melalui seminar atau lokakarya.
“Jadi, (edukasinya) lebih menyenangkan dan tidak formal,” terangnya.

Sosialisasi diselenggarakan di Kantor OJK di Denpasar, 19-20 Juli 2017.

Dua permainan yang diperkenalkan sebagai sarana sosialisasi itu menggunakan beberapa istilah pasar modal sederhana yang membuat pemainnya menjadi terbiasa mendengar sekaligus mengetahui arti masing-masing istilah tersebut.

Permainan pertama bernama “Nabung Saham Go” merupakan aplikasi permainan yang menyimulasikan transaksi yang dibuat secara sederhana untuk memudahkan pengenalan pasar modal kepada masyarakat yang masih awam. Aplikasi tersebut dibuat, dikembangkan dan dikelola oleh PT Winratama Perkasa atau Wingamers yang dapat diunduh di google playstore dan appstore.

Permainan kedua bertajuk “Stocklab” yakni permainan simulasi investasi berbentuk kartu yang diluncurkan bersama dengan Nabung Saham GO pada 27 Agustus 2016 di Bursa Efek Indonesia. Ini adalah inovasi baru sejak pasar modal diaktivasi di Indonesia 39 tahun lalu.

Berdasarkan survei indeks literasi keuangan tahun 2016 indeks pasar modal nasional hanya mencapai 4,4 persen, meningkat dari tahun 2013 yang mencapai 3,79 persen atau hanya meningkat tipis 0,16 persen. Sedangkan tingkat inklusi nasional tahun lalu juga meningkat dari 0,11 persen pada tahun 2013 menjadi 1,25 persen tahun 2016 atau meningkat 1,14 persen. Untuk terus meningkatkan capaian itu perlu dilakukan berbagai upaya, satu di antaranya melalui edukasi.***

Gringgo Solusi Persampahan di Pulau Dewata

TEKNOLOGI digital saat ini telah merambah ke berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Tidak hanya sekadar untuk komunikasi tetapi juga untuk mengatur keperluan rumah tangga. Akses-akses yang dahulu sulit untuk dijangkau kini semakin mudah untuk dilibatkan dan partisipatif. Seperti inisiatif untuk mengatur sampah di Pulau Bali. Lewat sebuah aplikasi digital, kini masyarakat Bali akan mendapatkan informasi dan panduan pengelolaan sampah dalam skala rumah tangga. Aplikasi tersebut bernama Gringgo.

Seperti diberitakan Mongabay Indonesia, aplikasi yang dikembangkan oleh dua pemuda Bali Olivier Puillon dan Febriadi Pratama tersebut merupakan aplikasi digital yang dianggap mampu menjadi solusi masalah sampah di Pulau Dewata. Berangkat dari keresahan pribadi, keduanya memutuskan untuk mengembangkan aplikasi digital untuk mempermudah pencarian informasi tentang pengelolaan sampah.

Inisiatif keduanya dimulai sejak tahun 2014. Meski saat itu belum memiliki aplikasi Gringgo, mereka memutuskan untuk melakukan sosialisasi tentang sampah pada anak-anak. Agar mereka memahami sampah-sampah mana saja yang masih dapat dijual untuk mendapatkan uang.

Perjuangan pun meningkat ketika Olivier dan Febriadi memutuskan untuk memperluas jangkauan, tidak hanya anak-anak namun juga masyarakat umum. Sehingga pada tahun 2015 itulah Gringgo mulai dikembangkan. Pengembangannya akan menjadikan aplikasi tersebut menjadi wadah (platform) untuk mendapatkan informasi jenis-jenis sampah dan nilai uangnya, lokasi-lokasi tempat pembuangan atau pengumpulan sampah, atau bahkan informasi layanan penjemputan sampah.

Agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan langkah awal yang dilakukan mereka adalah dengan melobi pemerintah terkait pengelolaan sampah, mendata tempat pengumpulan sampah sementara, mengembangkan program dan perangkat (tools), melakukan uji coba, dan meluncurkan wadah daring itu.

Sampai saat ini Gringgo masih dalam tahap pre alpha trial atau percobaan, namun telah tersedia di Google Playstore dan dapat diunduh secara gratis. “Sekarang mungkin baru selesai 30 hingga 40 persen,” jelas Febri seperti dikutip dari Mongabay Indonesia.

Dalam aplikasi tersebut, pengguna dapat menemukan informasi terkait dengan barang-barang yang dapat di daur ulang seperti plastik, besi, kaca, kertas dan lain-lain lengkap dengan perkiraan harganya. Semisal, tas plastik memiliki harga Rp 500 hingga Rp 1.000 per kilogramnya. Sedangkan botol air mineral jenis Polythylene Terephthalate (PET) dihargai sebesar Rp 1.000 hingga Rp 3.000 per kilogram.

Selain informasi tentang barang-barang yang dapat di daur ulang, Gringgo juga menampilkan informasi terkait peta daur ulang. Peta ini menjelaskan lokasi-lokasi tempat pengumpulan sampah sementara (TPS) yang telah dikumpulkan oleh Gringgo. Informasinya berupa alamat, kordinat GPS, nomor telepon, nama orang yang dapat dihubungi dan jam operasional. Hingga saat ini data TPS tersebut telah mencakup wilayah Denpasar, Ubud, Gianyar dan Kuta.

Data-data ini dijamin valid oleh tim Gringgo karena datanya diperoleh dengan survei ke lokasi secara langsung. Dalam pengumpulan data ini Gringgo telah bekerja sama dengan dua organisasi yakni Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) dan Yayasan Wisnu. Keduanya memang telah dikenal sebagai organisasi yang berpengalaman dalam penglolaan lingkungan.

Direktur Yayasan Wisnu, Suarnatha mengungkapkan bahwa lewat aplikasi Gringgo ini, masyarakat akan dapat mengetahui lokasi-lokasi pengolahan sampah terdekat.

“Kami ingin membuka data tersebut ke publik agar mereka terbantu. Setelah warga tahu lokasi pengumpulan sampah, mereka juga perlu tahu profil TPS tersebut seperti berapa KK yang memanfaatkan, apa karakter sampahnya, apakah bisa untuk limbah beracun atau tidak, dan seterusnya,” kata Suarnatha.

Dan fitur terakhir yang disediakan oleh Gringgo adalah Permintaan Layanan yang akan memampukan pengguna aplikasi untuk memanggil layanan penjemputan sampah-sampah yang akan didaur ulang. Dengan cara ini, para pengguna aplikasi tidak lagi repot untuk mengantarkan barang-barang yang telah terkumpul ke TPS.

Melalui semua fasilitas yang disediakan oleh Gringgo tersebut, harapannya akan mampu mengubah persepsi masyarakat tentang pengangkut sampah. Lewat pendidikan publik tentang sampah, menciptakan jasa pengangkutan sampah dan daur ulang, serta membuka peluang ekonomi dalam bidang daur ulang sampah.

“Kalau bisa berjalan di Denpasar, kami berharap bisa direplikasi di kota-kota lain,” ujar Suarnatha.

 

Sumber: Good News From Indonesia

3RD MINIKINO FILM WEEK

MINIKINO FILM WEEK ke-3, Bali 7-14 Oktober 2017 adalah edisi ke-3 Festival Film Pendek Internasional tahunan di Bali, Indonesia, yang didirikan & diselenggarakan oleh Minikino (minikino.org). Menyajikan program film pendek dari Indonesia, program pertukaran film pendek “S-Express” Asia Tenggara, dan Program Shorts Internasional dan program tambahan sebagai acara pelengkap, lokakarya dan program yang berfokus pada tema festival ini.

MINIKINO FILM WEEK dirancang sebagai festival bagi para pembuat film dan khalayak, yang bertujuan untuk membangun dan memperkuat jaringan pemutaran alternatif di Bali, menyediakan ruang untuk karya film pendek kepada khalayak mereka, yang mungkin sulit didapat di tempat lain. Di sisi lain, memberi penonton kesempatan untuk melihat dan mendiskusikan tentang film yang mungkin tidak pernah mereka lihat.

Minikino percaya bahwa sebuah film pendek, seperti sebuah puisi atau cerpen, adalah karya mandiri dengan manfaat kesusasteraannya sendiri. Pilihan film pendek yang diprogram dengan baik adalah stimulan kuat untuk diskusi, yang pada gilirannya akan mempromosikan kesadaran sosial dan pemikiran kritis.

Nikmati MINGGU FILIK MINIKINO ke-3, Bali 7 sampai 14 Oktober 2017, semoga ini akan menginspirasi kita semua.

Penghargaan & Hadiah

  1. SHORTLIST Laurel untuk pembuat film yang dipilih dalam status “Shortlist”.
  2. PEMILIHAN RESMI Laurel & Certificate (dicetak secara digital pada pdf) untuk semua pembuat film dengan film yang dipilih secara resmi dari Minikino Film Week.
  3. Pengakuan Premier Internasional 2017 – Laurel & Certificate;

Hanya film yang memenuhi persyaratan berikut yang dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan status World Premiere Recognition:

– Pengakuan ini hanya untuk Film Pendek Indonesia;

– Hanya film yang telah dirilis pada tahun ini di Festival (2017);

– Hanya film yang belum pernah dirilis di manapun selain negara asalnya;

– Hanya Film yang belum dipresentasikan pada acara penyaringan Internasional lainnya baik live maupun online (dipamerkan di Internet, secara publik) sebelum tanggal akhir Festival MFW ke-3 (14 Oktober 2017)

Penghargaan akan diberikan dalam kategori berikut:

  • Penghargaan Film Pendek Minikino Terbaik Tahun 2017
  • Pilihan Pemirsa MFW2017 Award
  • Pilihan Programmer MFW2017 Award
  • Penghargaan MFW2017 Terbaik untuk Anak-anak
  • Penghargaan FWN Terbaik Fiksi Pendek
  • Penghargaan Dokumenter Terbaik MFW2017
  • Animasi Terbaik MFW2017 Award
  • Penghargaan MFW2017 Terbaik Audio Visual Eksperimental

 

Film Aceh Jawara Denpasar Film Festival 2017

FILM Dokumenter “1880 MDPL” karya sutradara Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh (Aceh) keluar sebagai Film Terbaik Denpasar Film Festival (DFF) 2017. Puncak pelaksanaan Denpasar Film Festival berakhir Minggu malam (10/9/2017) yang ditandai dengan penyerahan penghargaan kepada jawara film dokumenter “1880 MDPL” oleh Wakil Walikota I GN Jaya Negara di Istana Taman Jepun Denpasar. Hadir pula dalam kesempatan tersebut para penggiat film, dan Slamet Rahardjo Djarot selaku Ketua Dewan Juri.

Pelaksanaan Denpasar Film Festival menjadi agenda rutin Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar bekerjasama dengan insan kreatif penggiat film di Kota Denpasar. Memasuki tahun kedelapan pelaksanaan Denpasar Film Festival mendapat apresiasi dari Wakil Walikota I GN Jaya Negara dengan peningkatan hasil karya dari peserta setiap tahunnya.

Menurut Jaya Negara film sebagai 16 sektor ekonomi kreatif yang capaiannya semakin positif karena banyak film Indonesia meraih lebih dri 1 juta penonton. Kenyataan ini film menjadi primadona ekonomi kreatif indonesia dalam menggerakan roda perekonomian masyarakat. Dimasa depan subsektor film menjadi sektor penting dalam kuliner, fashion dan kerajinan. Pemerintah pusat juga menempatkan ini sebagai sub sektor penting dalam pengembangan ekonomi kreatif yang tak terlepas dari empat pilar yang harus bergerak yakni akademika, dunia usaha, komunitas dan pemerintah.

Penyelenggaraan Denpasar Film Festival mula-mula datang dari komunitas pecinta film kemudian mendapatkan dukungan baik dari pemerintah dan kalangan dunia usaha yang melibatkan intelektual dan akademisi guna mendapatkan masukan ilmiah. Geliat ekonomi kreatif adalah tumbuh dan berkembangnya kreatifitas ekonomi kreatif.

Hal ini tak mungkin dilakukan pemerintah sendiri sehingga Pemkot Denpasar terus mendorong dan berupaya mendampingi dan tumbuh kuat menjadi tonggak eknomi kreatif di Denpaaar. Semoga langkah ini akan menjadi langkah awal dalam mengembangkan subsektor ini di Kota Denpasar dan dapat turut mensejahterakan masyarakat Denpasar.

Menurut Slamet Rahardjo Djarot, Film“1880 MDPL” mampu menyisihkan empat unggulan lainnya berkisah tentang kehidupan Petani Kopi di sebuah dataran tinggi di Aceh, tepatnya di Desa Merah Jernang Kecamatan Atu Lintang Kabupaten Aceh Tengah. Desa ini juga termasuk daerah Transmigrasi yang dibuka pada tahun 1997. Masyarakat petani kopi setempat sudah berupaya keras memanfaatkan lahan yang ada untuk bertanam kopi, namun hasilnya tidak pernah memuaskan karena tanah di ketinggian 1880 meter di atas perlukaan laut (MDPL) itu tidak begitu subur, nyaris untuk tanaman apa pun. Karena itu mereka harus mencari sampingan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, bahkan terpaksa membuka lahan baru di hutan. “Film ini merupakan potret jernih tentang situasi kehidupan masyarakat di mana setiap pesan disampaikan melalui rangkaian gambar yang rapi dan efektif,” ujar Slamet Rahardjo Djarot.

Selain “1880 MDPL”, juri memberi apresiasi cukup tinggi untuk film “Anak Koin” (Chrisila Wentiasri, Bandar Lampung) dan menganugerahinya Penghargaan Khusus. “Anak Koin” menarik perhatian juri karena kemampuannya menuturkan kisah tentang anak jalanan secara cukup dekat dan apa adanya. Dari film itu tergambar bukan hanya sisi buruk si tokoh, melainkan sisi baiknya pula. Film unggulan lainnya, “Perahu Sandeq” (Gunawan Hadi Sucipto, Jogja).

Disamping itu pertimbangan ketat, Dewan Juri menetapkan tiga film terbaik Juara 1 “Urut Sewu” (Dewi Nur Aeni, Karanggayam, Kebumen, Jawa Tengah) Juara 2 “ROB” (Fatimatuz Zahra, Pekalongan, Jawa Tengah), Juara 3 “Penambang Pasir Citanduy” (Dwi Novita Sari, Pelajar, Majelang ). (pur/humas-dps/bpn)

Ribuan Anak Muda Bali Kunjungi Jak Cloth 2017

PELAKSANAAN Jak Cloth 2017 di Pelataran Parkir Gor Lila Buana berlangsung meriah. Setidaknya tercatat ribuan anak muda Bali khususnya di Kota Denpasar memadati stand-stand dan panggung hiburan yang telah disiapkan oleh penyelenggara. Hari kedua pengunjung dihibur dengan Band Indie Payung Teduh dan Killing Me Inside. Band Indies Payung Teduh berhasil menyita perhatian pengunjung yang hadir malam itu. Band beraliran Folk, Keroncong dan Jazz ini membawakan sejumlah lagu yang tidak asing di kalangan anak muda sebut saja Resah, Cerita Tentang Gunung dan Laut, Tidurlah,Berdua Saja, dan rahasia. Bak berada dalam sebuah konser, pengunjung larut bernyanyi bersama dengan lirik lagu yang dimainkan sang vokalis.

Usai Band Payung Teduh membawakan lagu-lagu Hits mereka, Band Killing Me Inside memacu adrenalin para pengunjung. Alhasil para pengunjung yang awalnya tenang terbawa euphoria lagu-lagu dari Band Payung Teduh pun akhirnya berjingkrak-jingkrak. Band Killing Me Inside membawakan sejumlah lagu yang pernah hits di tanah air seperti Biarlah, Kamu, Don’t Look Back, Blessed by The Flower Entry. Lagu hilang yang pernah dinyanyikan Band Garasi menutup penampilan apik band ini. Meskipun Band Killing Me Inside mengajak penonton untuk berjingkrak dan membentuk formasi untuk meloncat menikmati lagu namun pengunjung tetap tertib dan tidak mekukan keributan.

Stand-stand di Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar dipenuhi dengan stand dari berbagai distro ternama. Beberapa stand rata-rata memasang promo beli satu gratis satu baju untuk menarik minat beli pengunjung. Harga Baju yang dijual pun ada yang diskon sehingga tidak ada pengunjung yang pulang dengan membawa tangan kosong. Harga yang ditawarkan mulai dari harga Rp 150.000 untuk sebuah baju dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Ada juga tas dan sepatu modis yang dijual khusus untuk kaum adam yang ingin tampil stylish.

Tiket masuk ke area Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar sangat terjangkau. Pengunjung hanya membayar tiket masuk Rp 20.000 saja. Pengendara roda dua dan empat dapat memarkir kendaraannya disisi sebelah barat Gor Lila Buana. Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar akan berlangsung dari tanggal 4 s/d 6 Agustus 2017. Pengisi acara lainnya yang turut menyemarakkan rangkaian Jak Cloth 2017 di Denpasar diantaranya Raisa, Dj Yasmin, Navicula, Rocket Rockers, Pee Wee Gaskins, Davega, Onadio Leonardo, Midday In Madness, Paludosa, Radio Wave, Sequel of Sunday dan Eulogy.

Namun, harap berhati-hati saat mengunjungi areal Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar. Karena banyak calo tiket yang menjual tiket Jak Cloth 2017 dengan harga lebih tinggi.Tiket masuk yang seharusnya bisa dibeli dengan harga normal dijual dengan harga Rp 25.000. Para calo tiket ini pun kadang memaksa para pengunjung untuk membeli. Padahal tiket normal masih tersedia. Para calo tiket ini berani memulai aksinya saat malam hari disamping gerbang masuk areal Jak Cloth.

Di areal Jak Cloth 2017 pengunjung juga dimanjakan dengan stand makanan dan minuman yang akan menemani melepas lapar dan dahaga selepas berkeliling areal stand Jak Cloth.***

Sumber: Herdian Armandani – Bale Bengong

Juragan Distro Pencetak Miliaran Rupiah

BERMODAL Rp 30 juta, bisnis distro digeluti hingga menembus pusat distro kota Bandung. Hasilnya, tiap bulan diluncurkan sekitar 30 ribuan produk, dan miliaran rupiah dihasilkan dari bisnis ini.

Nama panjangnya Kusdarmawan Ryo Baskoro masih berusia 32 tahun, tapi sudah menjadi pengusaha muda sukses. Pria asli Solo ini sudah memulai perjalanan bisnisnya sejak sekolah dasar. Tepatnya di kelas 3 SD, Ryo kecil sudah ikut membantu orang tuanya jualan gorengan dan kacang ke sekolah. Lumayan katanya bisa menabung dari uang yang diberikan ibunya.

Berjualan gorengan terus dilakoninya sampai masuk sekolah menengah pertama. Di SMA, dia yang berbakat seni sudah bisa membuat desain sendiri. Bakatnya dituangkan lewat seni desain dan sablon di kain sarung pantai. Ryo mulai merintis bisnis distro kecil- kecilan semenjak kuliah. Awalnya sih cuma iseng- iseng saja namun berubah menjadi bisnis menjanjikan. Ketika masuk kuliah di 2008, dia membanguka usaha patungan bersama teman.

Mereka memasarkan berbagai produk fasion bermerek Ankles. Targetnya kala itu adalah mereka komunitas skateboard. Sayang, usaha bersama diatas akhirnya malah bubar jalan. Ryo tak mau lantas berhenti; ia masih bisa melihat ada prospek di bisnis tersebut. Iseng- iseng dia mulai lagi mendesain kembali sebuah t-shirt. Tak disangka, banyak yang meminati desainnya itu. Permintaan pun terus berdatangan darinya. Pada tahun 2006 Rown resmi lahir bermodal awal Rp 30 juta.

Pria kelahiran 9 November 1984, menjelaskan nama Rown berarti Aryo Own. Di tempat kelahirannya di Solo, bisnis distro miliknya tak kalah dari pengusaha muda asli Bandung. Awalnya bisnis tersebut hanya dibantu tiga karyawan. Dia membuka sebuah gerai seluas 3 meter x 10 meter. Lambat laun, dari semula hanya memproduksi puluhan kaos, bisnisnya harus melayani ratusan hingga ribuan potong.

Pada 2008, Ryo mulai mengembangkan bisnisnya. Ia kemudian mendapat pinjaman dari sebuah bank. “Saya meminjam Rp 100 juta untuk pengembangan usaha. Sekarang, aset saya sudah miliaran,” ungkapnya tanpa mau menyebut detail berapa besar tepatnya.

Ryo pun menambah pegawai yaitu 3 desainer, kini, ia memiliki dua kali lipat desainer utama dan total pegawai lainnya mencapai sekitar 50 orang. Toko yang semula seukuran kamar, kini sudah meluas menjadi 360 meter persegi.
“Saya sudah membuat jenjang karier bagi para karyawan. Namun, yang langsung melayani pembeli saya bayar secara harian,” cerita lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret ini.

Di dalam pemasaran kala itu, ia memakai satu taktik jitu yaitu menjadi sponsor di berbagai acara anak muda; seperti pentas band. Untuk hal ini, mereknya Rown pernah menjadi sponsor Efek Rumah Kaca, acara MTV Ampuh, MTV 100%, dan juga berbagai film televisi (FTV). “Saya pantang jualan produk rejected,” katanya menimpali.

Dia tak lantas puas masih banyak cita- cita ingin dicapainya. Salah satunya, ia berencana membuat merek Rown untuk produk jam tangan. Bisnis satu ini direncanakan akan dibuat semi-waralaba.

Di sisi lain ia mengaku sulit menjual barang keluar negeri. Mereka itu sering membuat pelanggan menunggu lebih lama. Ia tidak menyukai hal semacam itu. Bagi Ryo meluncurkan desain baru merupakan kebutuhan bisnisnya.

Ini yang mengejutkan: Rown akan selalu memiliki desain baru tiap harinya, tidak semua tentang kaos. Desain barunya akan meliputi jaket, t- shirt, sepatu, jaket, kemeja atau aneka jins. Agar tetap eksklusif, Ryo memilih membatasi satu desain untuk 30 potong item.

Selain dijual di distro sendiri, ia pun menyasar distro lain untuk memasarkan produknya tersebut. Ini terbukti berhasil ketika anak muda Bandung lebih menyukai produk buatannya. Bandung yang dianggap kiblat fasion Indonesia menghasilkan keuntungan cukup besar. Bagi produsen Rown ini cukup mengejutkan, karena seolah menantang pebisnis distro di sana.

Untuk saat ini, Rown masih memiliki dua distro utama yaitu di Solo, Karanganyar dan Bandung. Selain pasar lokal, ia mengaku hasil produknya juga masuk pasar luar negeri seperti ke Singapura. Setiap produknya dibandrol dari puluhan ribu hingga mendekati kisaran sejuta.***

 

Source: Nusa Bali

Mimpi Besar Vana di Musik Bali

BICARA soal musik di Bali, bisa dibilang semua daerah punya potensi. Hanya selama ini lebih banyak muncul dan dibicarakan dari beberapa kota saja. Salah satu daerah yang juga potensial di musik namun belum banyak tergarap dan dipublikasikan adalah kabupaten Jembrana. Salah satu potensi itu adalah Vana band yang berasal dari Kota Negara. Mendekati makna namanya, band ini punya mimpi besar di kancah musik khususnya di Bali.

Awalnya saat dibentuk 2013, memainkan musik dengan format akustik, sempat gonta ganti personel, hingga akhirnya 2015 memutuskan untuk mengusung musik rock alternatif dengan lirik lagu berbahasa Bali. Jadilah kemudian Vana melangkah dengan harapan baru, didukung personel Nata (vokal, gitar ritem ), Zee (gitar melodi ), Hans (bass), dan Bayu (drum). “Kami berempat sepakat di jalur musik Bali karena kami ingin turut melestarikan lagu berbahasa Bali dalam balutan musik rock,” jelas Hans, bassist Vana kepada mybalimusic.com.

Tak hanya sekadar bermusik, sebagaimana juga band lain, Vana punya keinginan kuat untuk bisa dikenal secara luas baik di Bali maupun kota lain. Karenanya menghasilkan karya sendiri dan mempublikasikannya secara luas menjadi target utama. Hingga awal tahun ini, Vana berhasil mewujudkan keinginan memiliki album sendiri dengan merilis “Astungkara”. Menyodorkan lagu yang sebagian besar mengambil tema keseharian, Vana juga merilis tiga video klip untuk lagu “Kasta”, “Percuma”, dan “Sing Masalah”.

“Lagu- lagu yang kami ciptakan bercerita tentang realita kehidupan sehari-hari, tapi ada juga yang memang pengalaman pribadi dari personil tentang cinta. Vana yang dikreasikan dari kata fana yang berarti mimpi nyata, sama dengan tujuan kami yang ingin mewujudkan mimpi besar dalam karya kami di musik,” jelas Hans.

Lagu-lagu lain dari Vana sebut misalnya “Menyama”, “Mekenyem”, “Isin Gumi”, “Jual Mahal”, “Sing pantes”, “Egois”, “De to pikir”, “Om Swastiastu”, dan “Astungkara”. Selain mengisi berbagai acara pentas baik di kota Negara maupun kota lain di Bali seperti Denpasar dan sekitarnya, saat ini Vana juga mulai mempersiapkan materi lagu baru dan merencanakan penggarapan video klip terbaru.***

Source: Balimusic.com

Lama Istirahat, KIS Band Luncurkan ‘Teman Sahabat Hati’

Seluruh personel Kis Band saat jumpa pers peluncuran album Teman Sahabat Hati

SETELAH cukup lama vakum, blantika musik Bali kembali dimarakkan oleh kehadiran album baru KIS Band bertajuk ‘Teman Sahabat Hati’yang diluncurkan di bawah bendera Warung Mina Music Production. Mengusung 12 lagu, album kelima KIS Band ini diluncurkan pada Selasa (11 Juli 2017), di Boshe VVIP Club Bali.

Sebelum meluncur secara lengap ke publik, album besutan grup band yang berdiri tahun 2010 ini diawali dengan meluncurnya single berjudul ‘Kau Tak Seperti Yang Dulu’ karya Krisna Purpa di Masakan Rumah Etnic, Jalan Dewi Sri, Kuta, Badung, Jumat, 26 Mei 2017.

Adapun 12 lagu tersebut di antaranya, Teman Sahabat Hati (TSH), Kau Tak Seperti yang Dulu, Sirik, Hujan, The dan Pelangi, Jangan Lupa Bahagia, Sudahlah (feat Tiari Bintang), Dek Juwet Manis, Kangen Dot Mulih, Tarjo-Ponpon, dan Tanjung Cinta.

Menurut Krisna Purpa, vokalis yang menjadi magnet utama KIS Band , rampungnya album ini menjadi kado special bagi dirinya. Maklum, album kelima ini terbit berbarengan dengan kelahiran buah hati yang telah lama ia nanti-natikan.

“Suatu kebahagiaan yang amazing yang saya rasakan dalam hidup sampai umur 37 tahun ini. Setelah bersabar selama delapan tahun menunggu momongan, akhirnya Hyang Widhi mengabulkan keinginan kami. Dan, melalui album ini saya berbagi kebahagiaan dengan public pendengar lagu-lagu saya” tutur Krisna.

Menurut Krisna, album ini menghadirkan lebih banyak lagu-lagu berbahasa Indonesia daripada lagu berbahasa Bali. Harapannya tentu agar dapat diterima oleh khalayak yang lebih luas. Tidak hanya untuk masyarakat Bali saja. Dari 12 lagu yang ada baru tujuh di antaranya telah memiliki video klip. Meski demikian, pengerjaan album ini memakan waktu cukup lama.

“Tak kurang dari setahun kami berproses menggarap lagu dan video klipnya,” papar Krisna.

Selama kurun tersebut, menurut Krisna, cukup banyak dinamika yang mereka hadapi. Tapi karena kebersamaan mereka telah tertempa selama  tujuh tahun lebih, maka segala hambatan dan tantangan justru menjadi bahan bakar untuk mematangkan gagasan-gagasan yang muncul dari dinamika itu.

Bagi Produser album ‘Teman Sahabat Hati’, Wayan Agus Setiawan, mengatakan judul Teman Sahabat Hati memiliki makna yang tak biasa. Itulah yang membuatnya tidak ragu untuk menjadi produser album ini. Menueurtnya, ketika persahabatan di era yang serba cepat dan materialistis ini menjadi istilah pemanis bibir dan dan pengisi pikiran semata, maka persahabatan dengan bahasa hati menjadi semacam oase yang menyegarkan. Persahabatan menjadi lebih dalam maknanya.

“Maka mendengarkan lagu-lagu ini, kita harus bawa pelampung, karena lagunya dalam, supaya tidak tenggelam,” selorohnya.

Yang istimewa, dalam album ini, lagu Teman Sahabat Hati juga turut menggandeng Gung Gepenk sahabat lama Krisna Purpa yang pernah bergabung dalam D’Ubud Band, sebagai special perfomance.  Ini merupakan cerminan rasa persahabatan sebagai sesama musisi di mana persaingan dalam melahirkan karya-karya hebat bukanlah saling menjatuhkan melainkan saling memuliakan. Saling mewangikan.

“Banyak  masyarakat mikir, karena D’Ubud sudah bubar, lalu kita pisah temenan. Kita masih selalu komunikasi, cuma di musik saja kita nggak ketemu keep-nya. Kebetuan Teman Sahabat Hati ini, waktu satu bulan tujuh hari anak saya, saya sempat nawarin dia.  Akhirnya Gung Gepenk merasa cocok dengan lagu itu, dan kita rekaman,”papar Krisna.**

 

Biomusic KIS Band

  • Berdiri :  2010
  • Personel : Krisna purpa (vokal), ADP (drum), Genji (bass), Putu Karna  (gitar) dan Tiari Bintang (vokal).
  • Album sebelumnya: #1 (2010), Jahat (2012), Sakit Jiwa (2013) dan Story of Me (2014).
  • Tembang Hits: Secret Lover, 2501, Timpal Curhat, Dije Jani Adi, Sabar, Si Bodoh, Ingat Kamu, Jauh Panggang dari Api, Kita Pasti Bisa, Hati-hati, Berbohonglah. 

 

Kebersamaan dalam Keberagaman di Alunan Jazz

Musisi Indra Lesmana (kiri) dan Dewa Budjana (kanan) saat Festival Jazz “Surya Sewana” di tepi pantai kawasan Griya Santrian Sanur, Minggu (16/7/2017) Foto: Istimewa/Inibali.com

INILAH gelaran pertama festival Jazz bernuansa pantai. Mengusung tema “Bhinneka Tunggal Ika” festival ini memancarkan fibrasi indahnya kebersamaan di tengah perbedaan melalui atraksi musik yang memesona hati. Adalah Griya Santrian Group dan Sanggar Musik Indra Lesmana berkolaborasi menggelar Sanur Mostly Jazz Festival  pada 14-16 Juli 2017 di Pantai Griya Santrian Hotel, Sanur Bali. Sejumlah musisi tampil di dua panggung selama dua malam pada festival tersebut. Para musisi itu antara lain Balawan, Dewa Budjana, Zentuary, Indra Lesmana, Surya Sewana, Idang Rasjidi, Ito Kurdhi Chemistry, dan Koko Harsoe Trio.

Tampil pula musisi jazz kenamaan lainnya seperti Mergie Segers, Nancy Ponto, Nesia Ardi, Oele Pattiselano Trio, Sandhy Sondoro, Sandy Winarta Trio, Tohpati, Yuri Mahatma Quartet. Mereka semua tampil berelang-seling dengan penampilan sejumlah musisi muda berbakat.

Prakarsa penyelenggaraan festival ini datang dari tiga sosok yang sangat peduli pada perkembangan musik jazz di Bali. Mereka adalah musisi Indra Lesmana dan istri, Hon Lesmana, serta pengusaha kondang di bidang jasa wisata, Ida Bagus Gde Sidharta Putra.

Ada hal menarik dari Sanur Mostly Jazz Festival, yakni selain sebagai selebrasi atas kehadiran Sanur Mostly Jazz yang telah eksis dengan 48 kali tampilannya di Griya Santrian Hotel, juga ingin memberikan kesempatan kepada bakat-bakat muda yang lain untuk dapat juga perform, serta adanya kolaborasi lintas seni yang dapat membangun kreativitas baru melalui musik jazz.

Sanur Mostly Jazz Festival ingin meletakkan perhelatan musik ini sebagai bagian dari karakter desa dan masyarakat Sanur yang terbuka dan egaliter. Oleh karena itu pertunjukan musik ini tetap dikemas dalam panggung di tepi pantai.

  Kekuatan magis maupun ekologis pantai yang telah mengilhami keberadaan Sanur Mostly Jazz juga menjadi spirit dalam pelaksanaan festival. Untuk itu, di pelaksanaan festival ini penghormatan terhadap alam maupun aksi lingkungan hidup menjadi bagian penting yang tak terpisahkan.

Menurut Indra Lesmana kemasan Sanur Mostly Jazz Festival berupa “Creative Music and art Festival”. Artinya, festival ini menyediakan ruang kreatif bagi para seniman lintas dimensi, baik tradisional maupun modern yang nantinya diharapkan akan melahirkan karya-karya inovatif.

Sedangkan sebagai daya tarik utama, Sanur Mostly Jazz Festival akan menggelar tampilan musik jazz pada waktu dini hari atau menyambut matahari terbit. Program ini menurut Indra diakui baru pertama kali dihelat selama ia mengikuti festival jazz di banyak tempat.

Lebih jauh menurut Indra Sanur dikenal banyak orang, bahkan mendiang Perdana Menteri India Nehru mengatakan bahwa indahnya paginya dunia itu di Sanur atau “Sanur morning of the world”. Untuk itu kata Indra, ia sengaja menyiapkan konsep jazz “Surya Sewana” dalam menyambut paginya dunia dari Sanur melalui musik Jazz.

Diakui oleh Indra konsep garapan Surya Sewana mengadopsi bagaimana kegiatan para sulinggih atau Pendeta Agama Hindu di Bali yang selalu mendoakan alam jagad seisinya ketika terbitnya matahari agar penuh kedamaian dan keberkahan.

Sembari mengamini ucapan Indra, Sidarta Putra yang juga dikenal sebagai tokoh utama perhelatan Sanur Village Festival (SVF) mengatakan bahwa Sanur Mostly Jazz Festival  merupakan rangkaian acara menuju SVF 9-13 Agustus 2017. Itu sebabnya secara tematik Sanur Mostly Jazz Festival sama dengan SVF.

“Jadi bisa dikata bahwa Sanur Mostly Jazz Festival adalah program pembukauntuk  Sanur Village Festival 2017. Semacam ucapan selamat datanglah,” ujar Sidharta Putra yang akrab disapa Gusde itu

Lebih lanjut Gusde mengatakan bahwa masyarakat pecinta musik jazz setidaknya akan mendapat sajian porsi yang lebih dari program musik dan pagelaran seni di panggung SVF.

Melalui Sanur Mostly Jazz Festival diharapkan dapat membumikan kembali makna Bhinneka Tunggal Ika. Kita sangat paham kondisi negeri saat ini, dengan musik jazz semoga pula dapat mendekatkan serta merekatkan persatuan, persaudaraan, cinta dan kasih sayang sesama anak bangsa, tambahnya.

Mewarisi semangat jazz yang kreatif, interaktif, dan kolaboratif, Gusde berharap  momen musikal ini menghadirkan optimisme terhadap perubahan yang lebih baik melalui perspektif musik.

Seperti halnya improvisasi dalam jazz, kata Gusde, festival ini berambisi bisa menginspirasi kehidupan bukan hanya lingkup sosial yang kecil, melainkan menjangkau yang lebih luas: rakyat, bangsa dan negara.***

 

 

“Air, Perempuan, dan Anak-anak” Tema DFF ke-8

Memasuki tahun kedelapan, Denpasar Film Festival (DFF) hadir dengan tema “Air, Perempuan, dan Anak-anak”. Ini adalah bentuk kepedulian dari festival ini terhadap ancaman krisis air di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Bali, yang jika tidak ada langkah mitigasi akan menjadi nyata dan sulit untuk ditangani.

“Dan, kami melihat, di saat krisis air terjadi yang mula-mula paling menderita adalah para perempuan dan anak-anak. Itulah sebabnya kamu mengangkatnya sebagai tema pada tahun ini,” papar Dodek Febriyantow Sukahet, Manager Program DFF 2017.

Menurut Dodek, seperti tahun-tahun sebelumnya, program-program dalam festival film besutan Yayasan Bali Gumanti yang didukung Dinas Kebudayaan Kota Denpasar tersebut menyakup pelatihan, pemutaran film, pendampingan produksi, pameran, diskusi, dan lomba.  

“Konsisten dengan penyelenggaraan sebelumnya, inti dari program-program DFF adalah edukasi, apresiasi, dan kompetisi. Dan setiap tahun seluruh mata acara ditingkatkan kualitasnya baik dalam penyelenggaraan maupun kontennya,” papar Dodek.

Tahun ini, rangkaian program tersebut diawali dengan Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter yang diselenggarakan pada16-18 Maret dengan instruktur utama Panji Wibowo. Panji Wibowo adalah sutradara film dokumenter yang juga dosen di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Panji telah menerbitkan modul pelatihan produksi film yang terhitung sangat minim di Indonesia. Adapun pelatihan diselenggarakan di tepian Danau Buyan, Tabanan. Paparan Panji akan diperkuat oleh instruktur lain yang merupakan praktisi-praktisi yang mumpuni seperti Rio Helmi, I Wayan Juniartha, Anton Muhajir, Totok Parwatha.

Peserta pelatihan adalah para pelajar SMP dan SMA di Kota Denpasar yang dipilih melalui seleksi. Keduanya mendapat jatah masing-masing lima kelompok. Jadi akan ada lima kelompok untuk SMP dan lima kelompok untuk SMA sehingga total peserta maskimal hanya 20-30 orang saja.  

Dalam perkemahan, selain teori peserta juga dituntun untuk melakukan praktek lapangan tahap demi tahap. Pada akhir pelatihan semua kelompok peserta diwajibkan menyerahkan karya dokumenter berdurasi dua hingga empat menit yang mereka buat selama pelatihan. Di sela-sela kegiatan, setiap waktu senggang diisi pemutaran film dan diskusi. Juga ada materi pengayaan yang diberikan oleh para aktivis seperti Olin Monteiro (Aktivis Perempuan, Jakarta), Iwan Dewantama (Aktivis Lingkungan, Denpasar).

“Dengan demikian pengetahuan yang mereka dapat lebih menyeluruh. Tidak hanya soal teknis dan artistik, tetapi juga wawasan lain berkait dengan kehidupan dan lingkungan,” imbuh Dodek.

Seusai pelatihan, para peserta diwajibkan untuk membuat produksi film dokumenter tentang Kota Denpasar sebagaimana yang mereka ajukan pada saat seleksi awal. Untuk produksi tersebut masing-masing kelompok mendapat dana stimulant dalam jumlah tertentu. Dengan demikian, dari para peserta tersebut akan lahir sepuluh film dokumenter tentang kekayaan pusaka budaya di Kota Denpasar.

Program lain adalah Lomba Film Dokumenter, Lomba Resensi Film Dokumenter, Putar dan Diskusi Film Unggulan, Pameran Foto “Project 88”, dan Malam Penganugerahan. Lomba Film Dokumenter diselenggarakan antara 1 Maret-30 Juni 2017 melibatkan para pembuat film dokumenter di seluruh Tanah Air. Lomba Resensi Film Dokumenter diselenggarakan pada kurun 1 Maret- 31 Juli 2017 melibatkan para publik umum di seluruh Bali. Lomba

Adapun program pemutaran, diskusi, dan pameran foto esai berlangsung pada pertengahan bulan Agustus 2016. Di mana seluruh rangkaian acara itu ditutup dengan acara puncak yakni “Malam Penganugerahan” yang akan digelar pada 21 September 2017.

Hadiah Total 75 Juta

Hadiah total seluruh lomba dalam DFF tak kurang dari Rp75 juta. Pada Lomba Film Dokumenter terdapat dua kategori utama yakni umum dan pelajar. Keduanya menyakup peserta di seluruh Indonesia. Peserta kedua kategori dapat mengirimkan karya dokumenter dengan tema bebas. Untuk kategori umum durasi karya antara 20 menit hingga 40 menit. Sedangkan untuk pelajar durasi karya berkisar antara lima hingga sepuluh menit. 

Setiap karya yang masuk diseleksi melalui dua tahap. Pertama, karya diseleksi oleh Dewan Kurator yang terdiri dari tiga pekerja film dokumenter kredibel. Mereka memilih masing-masing lima karya unggulan di setiap kategori. Selanjutnya, pada tahap kedua, karya-karya yang lolos seleksi Dewan Kurator tersebut diseleksi kembali oleh Dewan Juri untuk menentukan lima karya terbaik. Satu di antara lima film unggulan kategori umum dinobatkan sebagai Film Terbaik yang berhak menggondol trofi DFF dan uang tunai sebesar Rp20 juta. Empat unggulan yang tersisih tetap mendapat hadiah uang tunai masing-masing sebesar Rp3,5 juta.

Pada kategori pelajar dipilih tiga juara yang secara berturut-turut mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp7,5 juta, Rp5juta, dan Rp3,5 juta.

Selain dua kategori di atas, terdapat pula kategori yang diperuntukkan khusus bagi pelajar di SMP-SMA di Kota Denpasar, yakni Video Promosi Denpasar sebagai Kota Pusaka.

Project 88

Untuk pameran foto esai, melanjutkan yang telah dirintis dua tahun sebelumnya. Karya yang dipamerkan adalah foto esai dengan delapan gambar dilengkapi narasi sepanjang delapan alenia. Karya yang ditampilkan pada pameran Project 88 adalah karya peserta Kemah Pelatihan yang dalam proses berkaryanya dimentori oleh fotografer profesional Totok Parwatha, Wisnu Wirawan, dan Dechi Ruditha.

Lomba Resensi Film Dokumenter

Diselenggarakan bagi para jurnalis, pecinta film, blogger, dan masyarakat umum di Bali. Karya merupakan resensi terhadap film dokumenter yang disiapkan panitia dan telah dimuat di media umum atau media online yang telah beroperasi secara ajeg selama tiga tahun. Karya akan dinilai oleh dewan juri yang dikepalai oleh Bre Redana, wartawan senior Harian Kompas.

Mengomentari semua program yang diselenggarakan DFF ini, Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Dra Ni Nyoman Sujanti, MM mengatakan, selaku lembaga pengemban amanat memberdayakan dan membangun partisipasi masyarakat di bidang seni-budaya, pihaknya selalu mendukung prakarsa kreatif yang tumbuh dari seniman dan pegiat perfilman di Kota Denpasar. Menurutnya, sebagai birokrat kesenian, pihaknya bertugas untuk memfasilitasi semua kreativitas tersebut.

“Semakin banyak prakarsa dari masyarakat seni atau pegiat kegiatan kreatif, semakin ringan tugas kami dalam menjalankan amanat yang diletakkan di pindak kami,” paparnya.

Oleh karenanya pihaknya berusaha keras untuk terus menjaga sinergi yang baik antara para seniman dan birokrat di bidang kesenian di Kota Denpasar.

Isu-isu Penting pada DFF 2017

  • Mengawal semangat kebersamaan dalam keragaman.
  • Mengawal semangat melindungi Bali dari krisis air.
  • Menguatkan komunitas film di Bali (daerah) dengan membangun jaringan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
  • Membangun perfilman Nasional melalui upaya apresiasi dan edukasi
  • Memaksimalkan sumber daya di daerah untuk membangun semangat persebaran aktivitas produksi film di Tanah Air guna memunculkan karifan lokal di masing-masing daerah.
  • Merupakan bagian dari gerakan Ekonomi Kreatif Kota Denpasar yang menjadikan kreativitas sebagai “komoditi” utamanya sehingga mengurangi tabiat mengeksplorasi alam sebagai ladang pendapatan.

Dewan Kurator DFF

  • Putu Kusuma Wijaya (Buleleng, Sutradara, Alumni Dutch Film School, Amsterdam)
  • Tonny Trimarsanto (Klaten, Sutradara, Peraih Lima Penghargaan Internasional di Bidang Dokumenter)
  • Gerzon Ron Ayawaila (Jakarta, Dosen IKJ, Alumni Universiteit van Amsterdam)

 

Dewan Juri DFF

  • Slamet Rahardjo Djarot (Jakarta, Sutradara)
  • Lawrence Blair (Amerika Serikat, Antropolog)
  • Rio Helmi (Ubud, Fotografer)
  • I Made Bandem (Denpasar, Etnomusikolog)
  • I Wayan Juniartha (Denpasar, Jurnalis)
  • Bre Redana (Jakarta, Jurnalis)

Topeng Singapadu, Tak Lekang Karena Waktu

Desa Singapadu adalah titik penting dalam peta seni topeng di Bali. Tradisi seni topeng di desa ini memiliki jejak dan latar historis yang sangat panjang. Berbagai catatat dan bukti sejarah lain menunjukkan bahwa masyarakat di desa ini telah mengenal dan menggeluti seni topeng sejak abad ke18, dan hingga kini tetap menggelutinya dengan takzim. Seolah kesenian ini telah menjadi bagian penting dari masyarakat Singapadu dan tak oleh waktu.

Untuk merayakan hal itu sebanyak 165 karya topeng kreasi 68 seniman dari Desa Singapadu, Gianyar, Bali,  dipamerkan di Bentara Budaya Bali hingga 13 Agustus 2017.

Kekuatan di balik topeng-topeng Singapadu yang dipamerkan itu tentu saja kandungan rentang sejarah, legenda yang unik, estetika yang unggul, ikonografi yang tepat, seniman-seniman yang hebat, dan kharisma yang terpancar dari setiap topeng yang diciptakan melaui proses pembuatan yang rumit.

“Semua itu menjadi satu kesatuan yang langka dan menjadi keunggulan Topeng Singapadu dibanding topeng mana pun di Bali,” ujar Prof. Dr. I Made Bandem, MA, kurator pada pameran ini.

Dalam format pertunjukan, sejarah topeng Singapadu ditampilkan lewat pentas Tari Barong Api yang menggambarkan kisah tentang Cokorda Agung Api, generasi pertama seniman topeng Singapadu. Ia terinspirasi membuat Barong Ket dari kilauan cahaya matahari. Tokoh ini adalah salah satu putra dari Dewa Agung Anom atau kerap dikenal sebagai Sri Aji Wirya Sirikan, Raja atau Dalem Sukawati yang berasal dari Klungkung.

Adapun pameran menghadirkan beragam tapel dari bentuk topeng barong (Bebarongan) atau topeng dramatari (Patopengan) hingga karya sejumlah seniman muda berupa topeng-topeng modern dan kontemporer. Di antaranya terdapat Tapel Barong Ket, Tapel Celuluk, Topeng Sidakarya, hingga topeng-topeng yang dipakai untuk seni tari hiburan.

“Setiap topeng seolah menegaskan eksistensinya tersendiri, namun secara keseluruhan terangkai tak terpisahkan sebagai jati diri masyarakat Singapadu,” sebut Bandem.|

Serangkaian pameran akan digelar pula sebuah timbang pandang pada Sabtu, 12 Agustus 2017. Pameran berangkat dari buku “Barong Kunti Sraya” karya Ni Luh Swasti Wijaya Bandem. Sebagai pembahas adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA. dan I Ketut Kodi, SSP, M.Si. Timbang pandang tersebut akan diawali tayangan dokumenter Barong Kunti Sraya 1928 hasil direpatriasi yang dilakukan oleh STMIK STIKOM Bali,  dan Arbiter Cultural and Traditions New York.**

Sumber: Tempo.co

Mekar Bhuana, Penjaga Kelestarian Musik Bali

Musik (gamelan) dan tarian merupakan bagian unik dan penuh warna dalam kehidupan sehari-hari orang Bali.  Di Bali terdapat tak kurang dari 45 jenis orkestra gamelan di Bali dan ratusan tarian. Namun, sejauh ini hanya sedikit orang, bahkan orang Bali sendiri, yang menyadari bahwa beberapa bentuk seni ini telah langka bahkan terancam punah. Karena modernisasi, globalisasi, pariwisata yang salah arah dan cara hidup yang biasanya semakin cepat, tradisi yang lebih tua telah kehilangan popularitas – dalam beberapa kasus, hilang sama sekali.

Beruntung ada kelompok Mekar Bhuana yang aktif dalam dokumentasi, studi, rekonstruksi dan penampilan dari bentuk seni yang kaya dan menakjubkan, namun undervalued ini. Berdasarkan penelitian lebih dari 15 tahun, mereka bekerja sama dengan para guru senior dari desa-desa, juga musisi profesional dan penari, untuk mendokumentasikan, belajar dan mempopulerkan kembali tradisi yang hampir punah.

Merekah ke Seluruh Dunia 

Nama Mekar Bhuana sendiri berarti “merekah indah ke seluruh dunia”, nama ini mengandung harapan bahwa musik dan musik tarian kuno Bali yang mereka gali akan merekah kembali dan keindahannya merebak ke seluruh dunia.

“Semangat itulah yang menjadi daya gerak bagi Mekar Bhuana untuk terus mendidik anak-anak muda mengenai nilai-nilai intrinsik bentuk seni Bali yang lebih dari satu milenium yang lalu terinspirasi oleh keindahan alam dari lingkungan tropis pulau ini,” ujar Voughn Hatch motor utama Mekar Bhuana.

Menurut Voughn yang bergiat bersama istrinya, Evie Hatch,  Mekar Bhuana melakukan semua hal di atas dengan mengenalkan kepada anak-anak yang belajar di situ mengenai akar budaya mereka (Bali) di bidang pertanian dan bagaimana gaya hidup agraria ini melahirkan bentuk-bentuk seni yang kompleks yang terkenal di Bali hari ini.

Siswa Mekar Bhuana tidak hanya belajar tentang bentuk seni budaya Bali tapi juga bagaimana memahami dan merawat lingkungan pulau yang rapuh. Pusat kami bertujuan untuk menjadi nol limbah melalui pengomposan, daur ulang, bersepeda dan berkebun. Jika siswa dapat menghargai hal-hal ini, mereka juga akan lebih menghargai lingkungan artistik yang indah yang telah muncul sebagai hasilnya.

Secara umum tujuan Mekar Bhuana adalah meningkatkan kesadaran lokal dan internasional tentang bentuk seni pertunjukan Bali yang langka dan terancam punah; membantu mendorong desa dan pengadilan untuk melestarikan bentuk seni berharga mereka, termasuk instrumen gamelan asli, instrumentasi, gaya bermain, repertoar, kostum tari dan gaya local; mempelajari bentuk seni pertunjukan langka dari guru lokal dan merekonstruksi repertoar gamelan dari rekaman dan notasi – untuk merekam, mendokumentasikan bentuk seni pertunjukan yang langka.

“Kami juga bermaksud memproduksi dan mengedarkan CD, VCD dan DVD mengenai berbagai bentuk seni pertunjukan yang langka serta menjadikan diri sebagai pusat pelatihan di mana orang bisa datang dan belajar bentuk-bentuk seni langka ini. Kami ingin orang menghargai keindahan gaya musik dan tarian yang unik ini. Pemusik dan penari kami terus belajar dan mampu melakukan sejumlah gaya langka dari desa-desa di seluruh Bali,” terang Voughn.

Di luar itu, Mekar Bhuana ini turut berpartisipasi dalam melindungi hak dan kepekaan para seniman pertunjukan tradisional  serta menyediakan arsip lengkap bentuk seni pertunjukan tradisional yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan tempat di mana orang-orang yang menyukai gamelan dan tarian Bali dapat mengumpulkan, belajar dan berbagi pengetahuan dan pengalaman berharga mereka.

Saat ini, Mekar Bhuana berfokus pada musik dan tarian istana abad pertengahan, dengan belajar komposisi dari guru atau rekaman lama. Musisi kami kemudian memainkan musik di orkestra antik di tengahnya. Konsep pelestarian setia Mekar Bhuana sama dengan menciptakan museum hidup-seperti bermain Mozart dengan instrumen baroque. Di Bali, Mekar berarti ‘mekar’ dan Bhuana berarti ‘dunia’. Kami berharap bentuk seni kuno ini suatu hari akan berkembang lagi tidak hanya di Bali, tapi juga di seluruh dunia.***