PAMERAN KERIS PETINGET TUMPEK LANDEP 2017

BAMBANG Hariono tampak sumringah. Pria asal Malang yang tergabung dalam paguyuban Pendowo Aji dan terlibat dalam pameran dan bursa keris di depan Museum Bali ini tampak bungah karena keris-keris yang dibawanya ramai peminat dan ia pun meraup untung puluhan juta rupiah karenanya.

Begitulah suasana dari tahun ke tahun pameran keris pusaka dalam rangka Petinget Tumpek Landep yang diselenggarakan Pemerintah Kota Denpasar dan Forum Komunikasi Paguyuban Etnis Nusantara (FKPEN) Bali. Tahun ini acara yang digelar pada 28-31 Agustus 2017 itu bahkan terasa lebih marak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut M.Hartono, pemilik stand dari paguyuban Selaparang Mandalika Keris, pameran keris pusaka yang diadakan oleh Pemkot Denpasar selalu ramai pengunjung dan penyelenggaraannya sangat tertata.

“Transaksinya sangat bagus, puluhan juta bisa kita dapatkan selama berlangsungnya acara,” tuturnya.

Namun bagi dia bukan itu yang terpenting. Yang lebih penting adalah bahwa Pemrintah Kota Denpasar sangat peduli dengan perkembangan kebudayaan, khususnya terkait benda pusaka seperti keris. Disisi

Memang, sebagai kota yang tergabung dalam organisasi kota-kota pusaka dunia (OWHC) Pemerintah Kota Denpasar sangat memperhatikan keberadaan pusaka warisan nenek moyang.  Kegiatan Petinget Rahina Tumpek Landep  yang  setiap tahun dimeriahkan dengan kirab pusaka, sarasehan, dan aktivitas lainnya dimaksudkan untuk melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam benda-benda pusaka, baik yang tampak maupun yang tidak.

Petinget Rahina Tumpek Landep tahun ini dibuka  dengan gelaran pementasan tari dan tabuh anak-anak  Br. Tegeh Sari, Tonja,  dan Tari Baris Landep yang menggambarkan kewibawaan Keris Bali sebagai lambang Taksu Keluhuran Budaya Nusantara. Tari Baris Landep ini diproduksi oleh Permana Art Studio bekerjasama dengan Disperindag Kota Denpasar.

Acara dilanjutkan dengan  Kirab Pusaka yang pada tahun ini ditandaidengan mengarak  Keris Denpasar sepanjang satu meter. Acara lainnya adalah Pameran Keris Pusaka yang diadakan di dalam Gedung Museum Bali.  Pameran ini melibatkan para pecinta keris dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah keris pusaka yang dipamerkan tak kurang dari 150 buah.

BursaKeris juga mewarnai acara ini. Bursa diselenggarakan di depan Museum Bali melibatkan  sekitar 30 pedagang keris dari Bali dan luar Bali. Terdapat juga Sertifikasi Keris sebagai layanan bagi masyarakat yang memiliki keris secara turun temurun namun tidak mengetahui spesifikasinya secara detil seperti luk, pamor, fungsi, tahun pembuatan,  dan lain-lain. Sertifikat ditanda tangani oleh Kurator Keris yang kompeten.

Selain keris pusaka, dalam pameran digelar juga produk pande besi, emas perak dan kerajinan lainnya.  Di sela-sela itu diselenggarakan Serasehan bertema “Jelajah Holistik Tumpek Landep sebagai Hari Pusaka lokal, regional”  yang melibatkan Budayawan, Seniman dan Pecinta Keris, SKPD Terkait, Unsur Akademisi, Bendesa Desa Pekraman se Kota Denpasar, Tokoh Agama dan Adat, STT dan  Swasta.

Tampil sebagai pembicara dan moderator antara lain  Prof. Dr. I Nyoman Suarka,  Dr.  AAA. Ngurah Tini Rusmini Gorda ,  Drs Nyoman Mudita (Pengusaha, Denpasar), dan Dr. Ida Bagus Rai Putra

Sebagai pelengkap digelar pula berbagai kesenian tradisional seperti Wayang dan Bondres. ***

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.