Bali dalam Lintasan Sejarah Jazz Indonesia

Sebagai pulau yang indah dan lekat dengan aktivitas kreatif, Bali mempunyai tempat khusus dalam sejarah musik jazz di Indonesia. Sejak awal-awal aliran musik ini berkembang di Tanah Air, Bali telah turut tercatat dalam lembaran sejarahnya. Berikut sekelumit catatannya.

Agung Bawantara

Bali punya tempat khusus dalam sejarah musik jazz di Indonesia. Sejak awal-awal aliran musik ini berkembang di Tanah Air, Bali telah turut tercatat dalam lembaran sejarahnya. Sekali pun dalam catatan itu posisi Bali bukan dalam keterlibatan musisinya untuk turut mewarnai blantika jazz Indonesia, melainkan sebagai pulau yang keindahannya menginspirasi para musisi jazz terbaik di Indonesia membuat sebuah album –belakangan menjadi sangat legendaris— bertajuk “Djanger Bali”. Rekaman itu dibuat di sela-sela perjalanan mereka melakukan tur konser di Eropa.

Kisah lengkapnya, begini. Pada 1967 kelompok jazz Indonesia bernama Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (gitar), Bubi Chen (piano, zither), Maryono (saxophone, flute, suling), Jopie Chen (double bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) melakukan tur konser menjelajahi berbagai kota di Jerman Barat (saat itu) selama kurun waktu hampir sebulan. Pada tur tersebut mereka bermain jazz nyaris tanpa henti. Mereka tampil di berbagai acara pentas musik di negara itu termasuk di Berlin Jazz Festival. Di sela-sela acara tur yang padat itulah para musisi jazz terbaik Indonesia tersebut mendapat tawaran membuat rekaman album. Tawaran tersebut datang dari seorang tokoh dan produser jazz di Jerman, Joachim Berendt, yang terpesona pada musikalitas Jack Lesmana dan kawan-kawan itu. Joachimlah yang kemudian berperan sebagai produser album yang diberi tajuk Djanger Bali tersebut.

Foto By Dwi Artana

Selama dua hari, pada 27 dan 28 Oktober 1967, di kota Berlin para musisi jazz kebanggaan Indonesia itu melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan sebuah album berkonsep East meet West yang perwajahan sampulnya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur. Dalam album itu beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti suling bambu, kecapi dan zither dihadirkan. Indonesian All Stars banyak melakukan eksperimen dan eksplorasi saat penggarapan album monumental tersebut. Jack Lesmana misalnya, melakukan eksplorasi dengan memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong. Dan hasilnya memang cemerlang, tanpa gong nuansa etnik Bali bisa tercipta.

Jazz di Indonesia

Sejatinya musik jazz pertama kali masuk ke Indonesia pada 1930-an diperkenalkan oleh musisi-musisi Filipina yang bekerja di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Mereka memainkan musik jazz dengan ritme latin, seperti boleros, rhumba, dan samba. Musik jazz semakin dikenal publik Indonesia ketika pada 1948 sekitar enam puluh musisi Belanda datang ke Indonesia untuk membentuk orkestra simfoni yang beranggotakan musisi lokal. Sejak itu grup musik jazz baru pun mulai bermunculan, seperti The Progressive Trio, Iskandar’s Sextet dan The Old Timers and Octet.

Pada 1955 muncul lagi kelompok Jazz Riders yang dibentuk oleh Bill Saragih. Pada saat bersamaan, di Surabaya, Jack Lesmana mendirikan pula grup musik jazz. Dan, di Bandung bermunculan musisi jazz seperti Eddy Karamoy, Joop Talahahu, Leo Masenggani, dan Benny Pablo.

Memasuki tahun 1980-an, musik jazz di Indonesia makin berkembang pesat dengan munculnya musisi dan penyanyi jazz seperti Benny Likumahuwa, Ireng Maulana, Luluk Purwanto, dan Elfa Secioria. Berbagai kombinasi antara musik jazz dengan genre lain pun mulai bermunculan. Fariz RM, misalnya, mampu menciptakan perpaduan musik antara pop jazz dengan latin. Pada era yang sama, Indra Lesmana, Donny Duhendra, Pra B. Dharma, Dwiki Darmawan, dan Gilang Ramadan membentuk kelompok musik bernama Krakatau, yang kemudian bertransformasi dengan mengganti beberapa personil.

Pada dekade inilah tampil musisi Bali, Dewa Budjana, yang turut memberi warna pada perkembangan musik jazz di Indonesia. Ia hadir berbarengan dengan Andien, Maliq & D’essentials, Tompi, dan Syaharani. Kehadirannya memberi warna baru karena menggabungkan jazz dengan genre musik lain seperti pop, rock, fusion, dan lainnya.***

Perjalanan Musik Jazz di Bali

  • 1996 Jazz Café berdiri di Ubud diprakarsai promotor music Jed Balaskas. Acara musik jazz pun mulai sering di selenggarakan di Ubud, Sanur, Seminyak, dan Kuta.
  • 9 Desember 2000 Bali Jazz Parade digelar di Amphi Theatre Mal Bali Galeria, Menampilkan antara lain Balawan, batuan Ethnics Fusion, Dewa Budjana Trio, Flowing Rhythm dan Bertha. Acara diinisiasi oleh Bali Jazz Forum yang dimotori Arief “Ayip” Budiman
  • 14-15 April 2001 Bali Jazz Forum menggelar Bali Jazz Fiesta di Sand Island Hard Rock Hotel dengan acara utama Konser Indra Lesmana-Reborn. Tampil dalam acara itu grup jazz Bali : Three Musguitars, Kayane band, dan Jiwa Band
  • 18-20 November 2005 Bali Jazz Forum kembali menggelar Bali Jazz Festival menghadirkan 38 grup jazz dari 10 Negara
  • 2009 Ito Kurdhi (musisi), Grace Jeanie (pengusaha event organizer), Denny Surya (pengusaha radio), dan Yuri Mahatma (musisi) mendirikan Bali Jazz Cummunity (BJC ) yang memrakarsai pementasan-pementasan jazz dan membuat Bali sebagai destinasi penting musik jazz di Indonesia.
  • 2013 Yuri Mahatma dan Anom Darsana (pemilik Antida Music Productions) memrakarsai Ubud Village Jazz Festival (UVJF). Festival ini menggabungkan nada groovy dan harmoni jazz dengan suasana artistik dan suasana pedesaan tradisional Ubud yang damai.
  • 8 Maret 2014 The Bali Live International Festival diselenggarakan di Taman Bhagawan, Tanjung Benoa. Acara ini merupakan kelanjutan Java Jazz Festival 2014 di Jakarta. Tampil dalam acara tersebut antara lain Earth Wind and Fire Experience, Al McKay, Incognito, Omar, Estaire Godinez Ft Stockley Williams, Robert Turner, Tania Maria, Jim Larkin, Israel Varela, Yeppy Romero, dan musisi dalam negeri Nita Aartsen, Balawan, Rio Sidik, dan Sandy Winarta.
  • 15 September 2016 Balawan membuat kolaborasi jazz dengan musik tradisional Bali pada ajang Denpasar Festival sebagai rintisan Denpasar Jazz Festival yang akan digelar tiap tahun. Konsepnya mempertemukan gambelan/karawitan dengan instrument modern dalam kemasan jazz. Juga mempertemukan musisi nasional dan pemusik lokal. Sayangnya acara ini tidak berlanjut.
  • 14-16 Juli 2017 Indra Lesmana bersama IB Gde Sidharta Putra menghadirkan Sanur Mostly Jazz Festival (SMJF) yang merupakan puncak perayaan dari pentas serupa dengan skala kecil selama 52 kali dalam setahun. SMJF menampilkan bintang-bintang jazz terkenal seperti Koko Harsoe Trio, Balawan, Yuri Mahatma, Nancy Ponto, Dewa Budjana, Idang Rasjidi, Tohpati, Ito Kurdhi, Sandhy Sondoro, Oele Pattiselanno Trio , dan Margie Segers. ***

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.