Dari Bali Merawat Spirit (Jazz) Indonesia

Foto by Dwi Artana

Sebuah rangkaian helatan musik jazz digelar di Sanur. Namanya Sanur Mostly Jazz Festival (SMJF). Festival ini seperti puncak selebrasi dari rangkaian acara serupa berskala lebih kecil yang digelar sepanjang tahun. Bergandengan dengan Surya Sewana, SMFJ diharapkan jadi magnet baru festival music jazz di Indonesia. 

 

 

Agung Bawantara

Matahari belum menampakkan diri. Hanya cercah cahaya jingganya saja semburat menerobos ufuk nun jauh di seberang. Di langit, bulan pucat separuh bayang dan bintang timur masih enggan pulang.  Tapi pagi itu, Minggu, 16 Juli 2017, Indra Lesmana telah memulai aksinya di panggung pertunjukan yang berdiri anggun di bibir pantai, persis di seberang  Griya Santrian Hotel, Sanur. Ia bersama musisi Dewa Budjana (gitar), Indra Gupta (bas), Sandy Winarta (drum), Christie (sequencer) dan penabuh gamelan Bali tampil begitu khidmad menyuguhkan repertoar “Surya Sewana” yang tediri lima part yang dilengkapi liuk gemulai empat penari dan asap dupa di depan panggung.

Gelaran berdurasi 50 menit tersebut seolah ritual menyambut pagi dari Indra dan kawan-kawan  untuk memancarkan vibrasi kedamaian dan persaudaraan ke seluruh semesta melalui alunan musik dan lagu jazz. Istilah “surya sewana” sendiri sejatinya merupakan ritual menyongsong matahari yang dilakukan para Sulinggih (pendeta Hindu) di Bali setiap pagi.  Dalam ritual tersebut mereka merapal doa-doa kedamaian dan keselamatan bagi semesta raya.

Di seberang panggung tampak ratusan penonton dari berbagai bangsa menyaksikan pentas pagi itu dengan penuh antusiasme.  Mereka tampak larut dalam suasana damai dan teduh namun tetap memancarkan harapan itu.

Itulah sekelumit suasana hari ketiga Sanur Mostly Jazz Festival (SMJF) yang digelar pada 14-16 Juli 2017 lalu.

Foto by Dwi Artana

Foto by Dwi Artana

 

 

Foto by Dwi Artana

 

SMJF ini digagas oleh musisi jazz Indra Lesmana dan Ketua Umum SVF Ida Bagus Gde Sidharta Putra (Gusde) sebagai sebuah festival musik jazz yang tak hanya merayakan musik jazz semata, tetapi sebagai peristiwa kebudayaan yang menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan pelestarian lingkungan.

Secara keseluruhan, sejak hari pertama hingga hari terakhir, SMJF memang  terasa sebagai sebuah helatan musik jazz yang istimewa. Selama tiga hari panggung festival ini ditaburi bintang-bintang musik jazz sohor seperti Koko Harsoe Trio, Balawan, Yuri Mahatma, Nancy Ponto, Dewa Budjana Zentuary, Idang Rasjidi, Nesia Ard,  Sandy Winarta Trio, Tohpati, Ito Kurdhi Chemistry, Sandhy Sondoro, Oele Pattiselanno Trio , dan Margie Segers. Para bintang musik jazz itu tak semata menyuguhkan permainan terbaiknya kepada penonton, tetapi membangun nuansa perdamaian dan persaudaraan.

“Melalui festival ini kami berupaya menjadikan musik jazz sebagai media penyampai pesan kebudayaan, kemanusiaan, dan lingkungan. Jadi lebih dari sekadar festival musik,” ujar Gusde yang di amini Indra di sela acara.

Hal itulah yang membuat penonton dan para musisi yang terlibat terkesan. Musisi Idang Rasjidi, misalnya,  memuji festival perdana ini sebagai festival istimewa yang menghadirkan pertunjukan unggul yang menempatkan potensi setempat di barisan depan. Terlebih di sela acara diadakan aksi lingkungan seperti pelepasan tukik dan bersih-bersih pantai.

“Interaksi seperti itu membuat musisi dan penonton merasa terlibat dalam peristiwa budaya yang dikemas dalam suatu festival jazz,” papar Idang.

Pada festival ini penonton dipungut tiket Rp300ribu per hari atau Rp500 ribu untuk terusan selama dua hari. Harga itu sudah termasuk

 

hidangan santap malam. Sedangkan pertunjukan Surya Sewana pada  hari terakhir, tidak dipungut bayaran. SMJF ini merupakan selebrasi Mostly Jazz yang telah diselenggarakan sebanyak 52 kali sekaligus mengawali kegiatan Sanur Village Festival (SVF) yang dihelat 9-13 Agustus 2017.

Sanur yang “Jazzy”

Tentang suasana Sanur yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival ini, musisi Dewa Budjana mengatakan bahwa kawasan Pantai Sanur yang tenang dan damai sangat pas untuk penyelenggaraan festival jazz. Apalagi karakter wisatawan asing di kawasan ini cenderung menyukai musik berkelas yang tidak ingar-bingar.

“Saya berharap festival ini berlanjut sebagai semacam monumen untuk menjaga spirit musik jazz Indonesia yang dipelopori oleh Jack dan Nien Lesmana, orang tua Indra,” harap Bujana.

Indra sendiri mengaku sejak hijrah ke Bali akhir 2014 ingin menyurahkan perhatian khusus bagi perkembangan jazz melalui edukasi dan regenerasi. Bersama istrinya, Hon Lesmana, dan Gusde ia lantas mendirikan Sanggar Musik Indra Lesmana di Jalan Waribang Denpasar dan menggelar konser Mostly Jazz setiap dua pekan sekali di pinggir pantai Griya Santrian Resort, yang sekaligus menjadi titik temu komunitas jazz.

“Melalui sanggar, Mostly Jazz, dan festival ini saya meyediakan ajang pembelajaran bagi talenta muda dan mempersiapkannya masuk dalam belantika jazz sesungguhnya,” ucap Indra sembari berharap  SMJF dan “Surya Sewana” bisa menjadi magnet baru di antara puluhan festival jazz yang secara reguler telah digelar di Nusantara.

“Pertunjukan musik  jazz menjelang sunrise sangat pas bagi Sanur yang dijuluki the morning of the world,” tegasnya.**

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.