Festival of Indonesianity in the Arts (FIA)#1 – Empowering Taksu

Festival of Indonesianity in the Arts (FIA)#1
EMPOWERING TAKSU
Selasa, 11 September 2018 Pukul 18.00 WITA

Sebagai kelanjutan dari sarasehan dan pembukaan Festival of Indonesianity in the Arts (FIA)#1
‘Empowering Taksu” yang telah digelar kemarin malam (10/11), hari ini dihadirkan pertunjukan seni karawitan “Greng” buah cipta Saptono, tari Bedhaya Putri Cina “Bhatari Krodha” karya Dyah Kustiyanti dan Wayang Wong Inovatif “Kumbakarna Lina” ciptaan I Kadek Widnyana.

Tari Bedhaya Putri Cina “BHATARI KRODHA”

Penciptaan seni ini didasari pada Tari Bedhaya dengan latar cerita raja Bali Kuna, Dalem Balingkang. Mengisahkan cinta segi tiga Raja Jaya Pangus, Putri Kang Cing Wei, dan Dewi Danu. Perkawinan Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei merefleksikan adanya kerukunan antar agama dan suku. Jumlah 9 penari dipilih sebagai lambang makrokosmos dan mikrokosmos.

GRENG: Sebuah Penataan Gending-Gending Klenengan

Greng memiliki arti menarik, mengejutkan, bisa juga sebagai rasa keindahan yang menyentuh hati menjadi agung, atau bisa diartikan serentak bareng (bersama).

Materi sajiannya adalah gending-gending yang telah lama ada, dari berbagai ragam bentuk, laras, pathet yang kemudian karakter, dan fungsi sosial diolah, ditata, dan digarap dengan vokabuler karawitan Jawa yang utuh padu.

KUMBAKARNA LINA – Karya Pedalangan Wayang Wong Inovatif

Drama Tari Parwa Inovatif ini menggunakan cerita Ramayana sebagai sumber lakonnya. Secara konvensional Wayang Wong hampir semua tokohnya menggunakan topeng, kecuali tokoh Rama, Sita, Wibisana, dan Trijata. Namun dalam garapan ini, akan diberikan sentuhan inovasi berupa penataan lampu, smook/asap, layar dan tata panggung (adegan Durga), serta dihadirkan tokoh pencerita sekaligus sebagai narator.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.