Perayaan Clothing Bernama PICA Fest

Paradise Island Clothing Association (PICA) Fest diklaim sebagai festival clothing terbesar di Bali bahkan Indonesia Timur. Semangat muda yang terpancar dalam penyelenggaraannya membuat festival ini sangat dinanti-nantikan.

Foto : Dok Panitia PICA Fest

Foto : Dok Panitia PICA Fest

Wayan Martino, Agung Bawantara

Ini adalah festival anak muda yang paling ditunggu di Bali. Betapa tidak, sebagian gairah muda mendapat salurannya pada festival ini. Ya, perpaduan antara clothing, musik,dan berbagai aktivitas komunitas memberi ruang yang sangat besar bagi ekspresi dan gaya hidup anak muda masa kini. Yang terbaru, ajang tahunan ini digelar pada awal Maret 2017 di Lapangan Parkir GOR Ngurah Rai, Jalan Melati Denpasar. Saat ini, penyelenggara telah bersiap-siap lagi untuk penyelenggaraan di tahun 2018.

“Penyelenggaraannya kemungkinan di bulan yang sama lagi. Tapi itu tergantung situasi juga mengingat tahun depan adalah saat-saat Pilgub,” ujar Febry Iswara, Public Relation PICA.

Gelaran PICA berawal dari terbentuknya asosiasi pengusaha clothing indie pulau dewata atau Paradise Island Clothing Association (PICA) pada awal 2014. Asosiasi ini dibentuk untuk menyatukan para pemilik clothing di Bali dalam sebuah festival yang saling menguntungkan dan saling membesarkan. Lahirlah PICA Fest.

 

 

FOTO : Dok PICA FEST

FOTO : Dok Panitia PICA Fest

Begitu digelar, festival ini ternyata membuahkan sukses besar bagi seluruh anggota asosiasi. Selain kunjungan ke distro masing-masing, kunjungan ke festival ini terus meningkat dari tahun ke tahun.Bahkan, pada tahun 2017 lalu dengan yakin mereka menarget kunjungan sebanyak 20 ribu orang setiap hari, dan itu tercapai!

“Dalam empat hari festival total kunjungan sekitar 80 ribu hingga 90 ribu orang,” terang Febry.

Sebagai pembanding, ketika pertama kali digelar, PICA Fest 2014 “hanya” dikunjungi 20.243 orang selama tiga hari. Pada2015 meningkat menjad I 34.980 selama tiga hari. Dan, tahun 2016 meningkat menjadi 58.384 orang selama tiga hari.

Seperti tahun-tahun sebelumnya PICA Fest tidak hanya merangkul para anak muda penggiat clothing indie di Bali, tetapi juga melibatkan banyak sekali komunitas-komunitas kreatif Bali. Dari komunitas perduli lingkungan, otomotif, sosial, tattoo, fotografi tentu saja music dan komunitas lainnya.

 

FOTO : Dok Panitia PICA Fest

Tapi yang paling ditunggu-tunggu tentu saja produk fashion indie Bali terbaru.Apalagi para tenan yakni 56 brand ternama tidak segan member diskon dalam prosentase yang cukup besar.

Tenda khusus dari Bali Indie Movement yang mewadahi band-band indie Bali juga menjadi magnet besar dalam acara ini. Di tenda akan dijual produk-produk merchandise asli dan rilisan fisik dari band-band yang tampil di PICA Fest 2017. Kurasi pemilihan brand peserta festival dilakukan dengan memperhatikan banyak faktor, selain kualitas brand-brand ini juga harus secara aktif menunjukan eksistensinya.

Menampilkan 60 lebih grup band indie di Bali, selain sebagai festival clothing terbesar, festival ini pun bergerak menjadi festival band indie terbesar di Bali. Ada pun barisan band-band kondang yang tampil antara lain Lolot, Jonny Agung, Navicula, Scared Of Bums, Devildice, dan Dialog Dini Hari. Tampil juga pendatang baru yang memetikperhatian public yakni Zat Kimia, Rollfast, Marco, Dromme, Janggar dan Lili of The Valley.***

 

Ribuan Anak Muda Bali Kunjungi Jak Cloth 2017

PELAKSANAAN Jak Cloth 2017 di Pelataran Parkir Gor Lila Buana berlangsung meriah. Setidaknya tercatat ribuan anak muda Bali khususnya di Kota Denpasar memadati stand-stand dan panggung hiburan yang telah disiapkan oleh penyelenggara. Hari kedua pengunjung dihibur dengan Band Indie Payung Teduh dan Killing Me Inside. Band Indies Payung Teduh berhasil menyita perhatian pengunjung yang hadir malam itu. Band beraliran Folk, Keroncong dan Jazz ini membawakan sejumlah lagu yang tidak asing di kalangan anak muda sebut saja Resah, Cerita Tentang Gunung dan Laut, Tidurlah,Berdua Saja, dan rahasia. Bak berada dalam sebuah konser, pengunjung larut bernyanyi bersama dengan lirik lagu yang dimainkan sang vokalis.

Usai Band Payung Teduh membawakan lagu-lagu Hits mereka, Band Killing Me Inside memacu adrenalin para pengunjung. Alhasil para pengunjung yang awalnya tenang terbawa euphoria lagu-lagu dari Band Payung Teduh pun akhirnya berjingkrak-jingkrak. Band Killing Me Inside membawakan sejumlah lagu yang pernah hits di tanah air seperti Biarlah, Kamu, Don’t Look Back, Blessed by The Flower Entry. Lagu hilang yang pernah dinyanyikan Band Garasi menutup penampilan apik band ini. Meskipun Band Killing Me Inside mengajak penonton untuk berjingkrak dan membentuk formasi untuk meloncat menikmati lagu namun pengunjung tetap tertib dan tidak mekukan keributan.

Stand-stand di Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar dipenuhi dengan stand dari berbagai distro ternama. Beberapa stand rata-rata memasang promo beli satu gratis satu baju untuk menarik minat beli pengunjung. Harga Baju yang dijual pun ada yang diskon sehingga tidak ada pengunjung yang pulang dengan membawa tangan kosong. Harga yang ditawarkan mulai dari harga Rp 150.000 untuk sebuah baju dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Ada juga tas dan sepatu modis yang dijual khusus untuk kaum adam yang ingin tampil stylish.

Tiket masuk ke area Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar sangat terjangkau. Pengunjung hanya membayar tiket masuk Rp 20.000 saja. Pengendara roda dua dan empat dapat memarkir kendaraannya disisi sebelah barat Gor Lila Buana. Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar akan berlangsung dari tanggal 4 s/d 6 Agustus 2017. Pengisi acara lainnya yang turut menyemarakkan rangkaian Jak Cloth 2017 di Denpasar diantaranya Raisa, Dj Yasmin, Navicula, Rocket Rockers, Pee Wee Gaskins, Davega, Onadio Leonardo, Midday In Madness, Paludosa, Radio Wave, Sequel of Sunday dan Eulogy.

Namun, harap berhati-hati saat mengunjungi areal Jak Cloth 2017 di Kota Denpasar. Karena banyak calo tiket yang menjual tiket Jak Cloth 2017 dengan harga lebih tinggi.Tiket masuk yang seharusnya bisa dibeli dengan harga normal dijual dengan harga Rp 25.000. Para calo tiket ini pun kadang memaksa para pengunjung untuk membeli. Padahal tiket normal masih tersedia. Para calo tiket ini berani memulai aksinya saat malam hari disamping gerbang masuk areal Jak Cloth.

Di areal Jak Cloth 2017 pengunjung juga dimanjakan dengan stand makanan dan minuman yang akan menemani melepas lapar dan dahaga selepas berkeliling areal stand Jak Cloth.***

Sumber: Herdian Armandani – Bale Bengong

Juragan Distro Pencetak Miliaran Rupiah

BERMODAL Rp 30 juta, bisnis distro digeluti hingga menembus pusat distro kota Bandung. Hasilnya, tiap bulan diluncurkan sekitar 30 ribuan produk, dan miliaran rupiah dihasilkan dari bisnis ini.

Nama panjangnya Kusdarmawan Ryo Baskoro masih berusia 32 tahun, tapi sudah menjadi pengusaha muda sukses. Pria asli Solo ini sudah memulai perjalanan bisnisnya sejak sekolah dasar. Tepatnya di kelas 3 SD, Ryo kecil sudah ikut membantu orang tuanya jualan gorengan dan kacang ke sekolah. Lumayan katanya bisa menabung dari uang yang diberikan ibunya.

Berjualan gorengan terus dilakoninya sampai masuk sekolah menengah pertama. Di SMA, dia yang berbakat seni sudah bisa membuat desain sendiri. Bakatnya dituangkan lewat seni desain dan sablon di kain sarung pantai. Ryo mulai merintis bisnis distro kecil- kecilan semenjak kuliah. Awalnya sih cuma iseng- iseng saja namun berubah menjadi bisnis menjanjikan. Ketika masuk kuliah di 2008, dia membanguka usaha patungan bersama teman.

Mereka memasarkan berbagai produk fasion bermerek Ankles. Targetnya kala itu adalah mereka komunitas skateboard. Sayang, usaha bersama diatas akhirnya malah bubar jalan. Ryo tak mau lantas berhenti; ia masih bisa melihat ada prospek di bisnis tersebut. Iseng- iseng dia mulai lagi mendesain kembali sebuah t-shirt. Tak disangka, banyak yang meminati desainnya itu. Permintaan pun terus berdatangan darinya. Pada tahun 2006 Rown resmi lahir bermodal awal Rp 30 juta.

Pria kelahiran 9 November 1984, menjelaskan nama Rown berarti Aryo Own. Di tempat kelahirannya di Solo, bisnis distro miliknya tak kalah dari pengusaha muda asli Bandung. Awalnya bisnis tersebut hanya dibantu tiga karyawan. Dia membuka sebuah gerai seluas 3 meter x 10 meter. Lambat laun, dari semula hanya memproduksi puluhan kaos, bisnisnya harus melayani ratusan hingga ribuan potong.

Pada 2008, Ryo mulai mengembangkan bisnisnya. Ia kemudian mendapat pinjaman dari sebuah bank. “Saya meminjam Rp 100 juta untuk pengembangan usaha. Sekarang, aset saya sudah miliaran,” ungkapnya tanpa mau menyebut detail berapa besar tepatnya.

Ryo pun menambah pegawai yaitu 3 desainer, kini, ia memiliki dua kali lipat desainer utama dan total pegawai lainnya mencapai sekitar 50 orang. Toko yang semula seukuran kamar, kini sudah meluas menjadi 360 meter persegi.
“Saya sudah membuat jenjang karier bagi para karyawan. Namun, yang langsung melayani pembeli saya bayar secara harian,” cerita lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret ini.

Di dalam pemasaran kala itu, ia memakai satu taktik jitu yaitu menjadi sponsor di berbagai acara anak muda; seperti pentas band. Untuk hal ini, mereknya Rown pernah menjadi sponsor Efek Rumah Kaca, acara MTV Ampuh, MTV 100%, dan juga berbagai film televisi (FTV). “Saya pantang jualan produk rejected,” katanya menimpali.

Dia tak lantas puas masih banyak cita- cita ingin dicapainya. Salah satunya, ia berencana membuat merek Rown untuk produk jam tangan. Bisnis satu ini direncanakan akan dibuat semi-waralaba.

Di sisi lain ia mengaku sulit menjual barang keluar negeri. Mereka itu sering membuat pelanggan menunggu lebih lama. Ia tidak menyukai hal semacam itu. Bagi Ryo meluncurkan desain baru merupakan kebutuhan bisnisnya.

Ini yang mengejutkan: Rown akan selalu memiliki desain baru tiap harinya, tidak semua tentang kaos. Desain barunya akan meliputi jaket, t- shirt, sepatu, jaket, kemeja atau aneka jins. Agar tetap eksklusif, Ryo memilih membatasi satu desain untuk 30 potong item.

Selain dijual di distro sendiri, ia pun menyasar distro lain untuk memasarkan produknya tersebut. Ini terbukti berhasil ketika anak muda Bandung lebih menyukai produk buatannya. Bandung yang dianggap kiblat fasion Indonesia menghasilkan keuntungan cukup besar. Bagi produsen Rown ini cukup mengejutkan, karena seolah menantang pebisnis distro di sana.

Untuk saat ini, Rown masih memiliki dua distro utama yaitu di Solo, Karanganyar dan Bandung. Selain pasar lokal, ia mengaku hasil produknya juga masuk pasar luar negeri seperti ke Singapura. Setiap produknya dibandrol dari puluhan ribu hingga mendekati kisaran sejuta.***

 

Source: Nusa Bali

Pemilihan Duta Endek

Upaya memopulerkan kain endek sebagai kain kebanggan Kota Denpasar dan Bali terus dilakukan oleh Pemkot Denpasar. Di bawah koordinasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Denpasar Pemkot Denpasar melakukan pembinaan dari hulu hingga hilir. Salah satu langkahnya berupa gelaran tahunan Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar. Ini adalah kegiatan tahunan yang selalu digelar setiap bulan Oktober, dimana acara ini selalu diawali dengan sosialisasi kepada anak-anak muda Kota Denpasar.

“Hal itu dimaksudkan agar endek menjadi wastra kebanggan kota Denpasar yang gengsinya tak kalah dengan produk wastra lain di dunia,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar Wayan Gatra, Kamis, 25 Mei 2017.

Menurut Gatra konsep kegiatan tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yakni dengan memilih puluhan para finalis duta endek dengan melibatkan tiga orang juri yang berkompeten di bidangnya. Tema tahun ini adalah “Endek is True Quality”.

Kata Gatra, pemilihan Duta Endek juga dibarengi empat bidang lomba meliputi kewirausahaan bagi siswa SMP, SMA/SMK, yakni fashion show, lomba foto, serta lomba mewarnai bagi siswa TK dan SD.

Pemilihan Duta Endek menobatkan Duta Endek Putra dan Putri memperebutkan penghargaan Juara I, II dan III, serta mengikuti pembekalan dari Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. I.A Selly Dharmawijaya Mantra. Kegiatan juga diisi dengan visiting trip ke perajin endek yang ada di Kota Denpasar.

Rabu, 30 Agustus 2017, proses pemilihan Duta Enek Kota Denpasar telah sampai pada tahap semifinal. Pada tahap ini para semifinalis mengikuti seleksi tahap III   di Aula Gedung Sewaka Darma lantai 3, Jalan Majapahit No. 1 Denpasar.  Ada pun tes yang akan dijalani yaitu tes wawancara, tes catwalk dan tes bakat. ***